Kamis, 04 April 2013

PENDAKIAN VERTICAL CLIMBING MERAPI 2013

Pendakian gunung Merapi ini bukan berarti sebagai acara pendakian siapa, yang mengadakan siapa, dan yang tetap jadi berangkat siapa. Apalah artinya sebuah masalah dan kesalahan, jika keberanian diri masih ada pada diri dan jiwa masing-masing, semua itu tergantung  pada bagaimana kita mau menyikapinya.
 
Pendakian Merapi kali ini kita berusaha untuk bisa merubah ketidakjelasan menjadi jelas, ketidakpastian menjadi pasti, keraguan menjadi sebuah keberanian, membuat rekam jejak cerita,  dan pembuktian diri bahwa semua bisa menjadi kenangan dan cerita pendakian yang selalu berbeda. Finally, sampai di puncak Merapi dengan kepuasan kemenangan yang lebih dari biasanya (Six Fighters: *Papa Jo, Tarom, Dimas, Amin, Anes, mb Gita 3-4 April 2013) With Theme “Puncak Merapi Berada di Bawah Telapak Kaki Dimas” Hehe ^_^
the six Fighters
Pendakian merapi ini sebenarnya merupakan pendakian untuk kedua kalinya bagi momonway, karena di pendakian ini sejatinya untuk mengantarkan dimas sampai di puncak Merapi. Kita berenam berangkat dari Jogja pukul 17.00 sore, kemudian sampai di basecamp New Selo sekitar pukul 19.00 perjalanan menuju basecamp waktu itu berbeda dengan biasanya karena jalan dipenuhi oleh kabut yang tebal, sedangkan jalan yang kita lewati adalah jalan eksterm naik turun, tentunya perlu ekstra hati-hati.

Sesampainya di basecamp kita cari masjid dulu buat solat Isya’ n Maghrib, kemudian di masjid itu aku benar-benar *miris, karena disitu ada sekitar 6 anak-anak 1 diantaranya adalah perempuan yang sedang belajar bersama mengerjakan soal matematika sambil menunggu waktu adzan Isya’. Mirisnya lagi buku yang mereka gunakan hanya 1 dan digunakan secara bersama-sama, itupun juga merupakan buku pinjaman dari perpus sekolah mereka. Seketika aku dan Anes ikutan menunggu adzan Isya’ juga ikut bantu belajar untuk memecahkan soal matematika. Senengnya, baru kali ini pendakianku dipertemukan dengan kejadian seperti ini.

Anehnya lagi ketika sudah waktunya adzan Isya’ yang mengumandangkan adzan juga salah satu dari mereka, begitu juga yang pujian dan setelah diperhatikan yang menjadi imam sholat juga salah satu dari mereka. Dibenakku pun berpikir kemana orang-orang tua mereka, kenapa yang memakmurkan masjid justru malah anak-anak, kenapa yang lain tidak ada?? Pertanyaan besar itupun menggelayuti pikiranku. Tapi itu adalah realita kebenaran yang ada.

Setelah makan nasi goreng telur kita berenam segera packing untuk menyiapkan pemberangkatan pendakian. Kita tenteng tas carrier dan kita mulai pendakian dengan berdoa. Jalur New Selo dengan nafas pertama kita mulai *berkali-kali nafas di tanjakkan pertama itu rasanya berat banget, sedikit-sedikit kita lewati. Jalur pendakian Merapi merupakan vertikal climbing, karena di jalur pendakian yang kita lewati ngetrack keatas tidak pernah ada jalan bonus datar maupun turun, hehe.
jalur New Selo
MLML menjadi pilihan pendakian kita waktu itu yakni “mlaku leren mlaku leren” hal ini terbukti waktu perjalanan pendakian menjadi sangat lama namun tidak terlalu melelahkan, sedangkan setelah gapura selamat datang pendakian Merapi kita ternyata melewati jalur Kartini dan sebelumnya aku belum pernah melewati jalur ini. Katanya jalur Kartini jalannya lebih landai dan tidak terlalu vertikal. Namun dari jam 9.00 kita berangkat mendaki sampai di pos dekat Pasar Bubrah sekitar jam 3.00 pagi. Rasanya sudah pingin tidur namun dome belum jadi *hoammph.
melewati jalur Kartini dan istirahat sebentar
Jam 3.30 pagi kita baru tidur dan jam 6.00 kita bangun sholat subuh, namun sayang sekali pagi itu kita tidak bisa melihat sunrise, huhu. I think, it doesn’t matter yang penting segera masak kopi, mie dan sarapan. Wah-wah baru pendakian ini juga ada banyak makanan ada nasi, ayam, sambal, lalapan, roti tawar, susu wauww padahal kita cuma berenam.
bangun pagi
Walaupun Cuma berenam tapi kita bawa 2 dome, bagus kan bentuk dome yang kita dirikan, dengan background dome dan gunung Merbabu kita mendokumentasikan kenangan dan cerita pendakian. 
very beautifull background
Dinginnya pagi itu benar-benar membuat kita untuk malas bangun, rasanya masih pingin untuk tidur lagi. Setelah kita bangunkan semua, sekitar jam 07.30 kita bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan untuk menuju puncak. Jalur yang kita lewati masih berbatu dan masih bervegetasi itu artinya kita baru mau sampai di *geger baya”  capekknya.
tracking menuju geger baya
Suasana pagi memang sangat bagus untuk berfoto-foto, di sepanjang perjalanan jalur yang kita lewati, sering bertemu dengan rombongan bule-bule yang juga sedang melakukan pendakian. Kita pikir hari Rabu-kamis itu sedikit yang mendaki tapi ternyata tidak, banyak juga yang sedang melakukan pendakian. *Hello Good morning mister* begitu sapaku untuk mereka, hehe.
Setelah mengatur pernafasan sedikit-demi sedikit akhirnya geger baya bisa kita lewati, diatas geger baya ini gunung Merbabu terlihat hijau dan begitu kokohnya.
semangat untuk tetap sampai puncak Merapi
Patahan pundak merapi pun terlihat meliuk dengan gemulainya, pundak merapi ini jika dilihat dari rumahku yang ada di Bantul sana terlihat sebagai undak-undak patahan merapi. Foto dulu ahh.
pundak Merapi yang benar-benar meliuk indah
Nah hamparan batuan, pasir dan kerikil sudah terlihat luas, welcome to Pasar Bubrah yang menjadikan ciri khas tempat ini adalah tugu batu memoriamnya dan alat pengukur gempa vulkanis atau yang biasa disebut sebagai seismograph.
di tugu memoriam at Pasar Bubrah Merapi
Teringat pendakianku di tahun 2011 dulu, setelah sampai di pasar Bubrah ini kita melewati jalur pendakian yang salah, yakni melewati jalur pasir vertikal dengan kemiringan 60 derajad, kalau diinget-inget sampai berdarah-darah perjuangan waktu dulu. Untungnya sekarang kita sudah tau jalur menuju puncak yang benar adalah melewati jalur yang sebelah mana, ternyata melewati jalur pasir yang di sebelah timur. Jalur pasir yang kita lewati membuat langkah kaki kita kadang jadi mlorot-mlorot, tapi sedikit demi sedikit bisa kita lampaui juga.
track pasir dengan kemiringan sekitar berapa ya??hihi gak bawa ubneylevel sih
Masih dalam perjalanan menuju puncak Merapi akhirnya daripada melewati jalur pasir, kita lebih memilih melewati jalur yang berbatuan, karena kita pikir tidak licin dan tidak mlorot-mlorot. Batu-batuan besar di Merapi selalu menjadi pemandangan yang luar biasa, tak pernah berhenti aku selalu mengucapkan doa-doa minta keselamatan kepada Alloh dan memuji ciptaannya yang Maha Besar.
melewati jalur bongkahan bebatuan harus ekstra hati-hati
Mendaki itu sangat capek, kadang aku dengan Anes sering berpendapat *Nes, sepertinya kita punya hoby mendaki itu seperti memiliki hoby yang bodoh, kenapa kita lebih memilih tempat-tempat yang menantang butuh perjuangan, jika kita lebih memilih untuk tinggal di rumah, tidur di atas kasur empuk dan kenyamanan dengan ditunjang fasilitas yang serba ada. Tapi memang inilah adventure semua tantangan dan petualangan akan lebih menjadikan kita untuk lebih mensyukuri hidup.
Setiap melewati bongkahan-bongkahan batu besar, kita melihat wajah Dimas yang kembali memucat (*aku berpikiran apakah anak ini nantinya bisa sampai puncak?). Ternyata pertanyaanku ini benar-benar terjawab dan akhirnya kita bisa sampai di Puncak Merapi dengan selamat. Kita sampai di bibir kawah yang selalu tertutup asap dan kabut. Kita berenam bersyukur dan memanjatkan doa kebahagiaan.
sampai di Puncak Merapi
Maka untuk tema kali ini benar-benar *Puncak Merapi berada di bawah Telapak Kaki Dimas* hehe.
Namun Puncak Merapi sedang berkabut huhu
Pendakianku yang kedua di Merapi ini walaupun pernah di tempat yang sama namun memiliki cerita yang berbeda di setiap pendakiannya. Walaupun capek tapi kita punya kepuasan tersendiri.
momonway is aminfitriyah
Setelah sudah lama berada di puncak Merapi, kita berenam memutuskan untuk segera turun dari puncak, ya beginilah pendakian setelah sampai puncak pun kita harus turun kembali. Untuk turun kita harus lebih ekstra hati-hati agar tumpuan batuan yang kita injak tidak membuat kaki kita tergelincir ke bawah.
Moment yang paling menyenangkan ketika turun adalah ketika melewati jalur pasir, rasanya seperti *sandskating* berselancar di pasir haha, kita semua turun dengan tertawa bahagia seperti anak-anak kecil, tapi itulah kebahagiaan.
makan ayam bakar di gunung
Sampai di dome kita  makan ayam bakar yang dibakar dengan gas, hmm enak karena lapar. Baru kita menikmati makan siang ayam bakar plus sambal, gerimis datang dan mengguyur rintik-rintik. Semakin lama guyuran itu semakin deras, alhasil kita belum siapp packing dan akhirnya dalam kondisi barang-barang kita basah dan secara asal-asalan semua dimasukkan ke carrier gak tau itu barang bawaan siapa yang penting semua masuk.
Berangkat dengan beban berat dan turun pun dengan beban yang lebih berat karena barang bawaan semakin banyak dan basah, jam 12.00 siang kita turun, dan jam 16.30 kita sampai di New Selo.

Itulah cerita pendakianku pada waktu itu di gunung Vulkanis yang paling aktif di dunia yaitu *M-E-R-A-P-I*.
Sekian ^ ^
Selamat berjumpa dengan cerita perjalananku selanjutnya, thanks.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar