Jumat, 01 November 2013

Realita Kondisi Pendidikan Di Pedalaman Desa Long Berang Mentarang Hulu

Sejak kedatanganku di penempatan SM3T di desa Long Berang Kecamatan Mentarang Hulu kabupaten Malinau ini, banyak sekali realita pendidikan yang aku temui. Sebenarnya kasihan juga aku melihat nasib anak-anak bangsa di pelosok Negeri ini, sudah SMP namun ada yang masih belum bisa baca dan masih mengeja, belum bisa berhitung, perhitungan dasar juga masih banyak yang belum bisa. Kekurangan guru dan tenaga profesional mengajar sangatlah kurang di sekolah ini, banyak guru PNS yang jarang masuk dan yang mampu bertahan untuk mengajar hanyalah guru kontrak dan guru honorer.
SMP N 1 Mentarang Hulu

Letak sekolah kami berada  di hulu sungai Mentarang, jadi kita berada di atas bukit di Mentarang Hulu, transportasi untuk menuju daerah ini hanyalah menggunakan perahu kayu seperti Longboat dan Ketinting. Tidak ada jalan darat, jadi tidak ada mobil, bis, bahkan motor pun hanya ada 2 atau 3 yang dimiliki oleh petugas kecamatan. Terbatasnya akses menuju lokasi ini sehingga jumlah penduduk yang tinggal disini hanya sedikit. Untuk itu daerah ini sangat terisolasi karena keterjangkauan transportasi menuju lokasi tempat ini.

Setiap hari anak-anak selalu memperoleh bentakan bahkan pukulan dengan kayu penggaris maupun kayu rotan, hukuman fisik masih sering diterapkan di sekolah ini. Anak-anak selalu diceramahi soal kedisiplinan namun guru-guru yang ada disini jarang sekali untuk bisa disiplin mengajar, sangat ironis memang. Selain itu cara pengajaran yang diterapkan oleh guru-guru disini sangat monoton dan kurang berkembang. Tidak ada media yang menarik yang dapat guru sampaikan. Guru-guru masuk kelas untuk mau mengajar itu sudah merupakan nilai plus, jadi bentuk ngajarnya seperti apa itu sudah nomor dua. Siswa paham dengan materi yang disampaikan maupun tidak itu bukan menjadi suatu alasan demi tercapainya tujuan pembelajaran di kelas. Sehingga  belajar menjadi suatu hal yang menakutkan di kelas dan pasti terasa membosankan bagi siswa.
 
siswa SMP N 1 Mentarang Hulu
Untuk itu kesempatanku untuk mengajar di sekolah ini adalah merubah metode cara penyampaian belajar *fun learning yang lebih menyenangkan. Memberikan beberapa *ice breaking di setiap kelas yang aku ajar agar siswa merasa senang dan tidak bosan. Aku suka mengajar karena bisa sharing berbagai ilmu dan transfer knowledge maupun transfer value. Mengajar bagiku adalah sebuah panggilan hati, di sekolah ini aku selalu memotivasi mereka untuk terus berani bermimpi dan menggapai cita-cita setinggi mungkin. Aku tau mereka adalah anak-anak yang lahir di daerah pedalaman tapi aku percaya mereka memiliki kesempatan sama untuk memiliki mimpi-mimpi dan meraihnya.
 
siswa SMA N 11 Malinau yang masih menggunakan ruangan perpustakaan SMP N 1 Mentarang Hulu
Di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal disini tepatnya di daerah tapal batas dengan Malaysia, dengan waktu satu tahun yang singkat ini akan aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Berbagi pengalaman dengan mereka, belajar bersama mereka, dan bersosialisasi bahkan menjadi bagian dari keluarga mereka. Di pedalaman desa Long Berang ini aku bersyukur walaupun dengan segala keterbatasan akses transportasi, listrik dan bahan kebutuhan logistik, namun aku merasakan kebahagiaan bersama masyarakat suku Dayak Lundayeh disini. Mengenal budaya dan tradisi masyarakat yang ada, belajar bahasa mereka dan bernyanyi lagu daerah dengan mereka menjadi suatu hal yang menyenangkan.

Rabu, 09 Oktober 2013

Mancing dan Camping di Anras Sungai Mentarang Hulu

Selasa, 8-10-2013 kami berangkat ke sekolah seperti biasa, jam 07.20 kita sudah sampai di kantor. Banyak kegiatan yang kami sering lakukan di sekolah selain mengajar, yaah untuk menambah kesibukan biar tidak pernah bosan. Kebetulan hari ini temen kami Joko Seko akan turun ke kota yaitu untuk keperluan ikut pertandingan bola voli di Malinau mewakili club di Pulau Sapi dan sekaligus untuk membeli kebutuhan logistik kami yang sudah hampir habis.

Pak Marthen (Kepala Sekolah kami) tiba-tiba mengajak untuk pergi mencari ikan, mungkin karena melihat kebosanan di wajah kami berempat dengan rutinitas itu-itu saja, jadi beliau membuat acara dadakan. Pak Marthen memiliki hobi memancing dan berburu di hutan, hobi ini merupakan hobi yang sering dilakukan oleh penduduk setempat di daerah-daerah Long seperti Long Berang. Kemudian beliau mengajak guru-guru SMP N 1 Mentarang Hulu dan memanggil beberapa siswa yang memiliki ketinting untuk diajak nyilam mencari ikan, camping di anras lebih tepatnya.
 
Anrison sang motorist Ketinting, dia adalah salah satu dari siswa SMA kami di Long Berang
Siswa SMA kami yang bernama Anrison, dia memiliki ketinting dan bisa mengoperasikannya, kemudian siswa SMP yang diajak adalah Alex dan Johan. Rencana kami pergi jam 14.00 siang setelah sepulang sekolah. Karena belum makan siang, maka kami hanya sempat menggoreng telur dan makan dengan sambal terasi instant, maklum karena mencari sesuatu yang cepat untuk dimakan. Setelah selesai solat kita segera prepare untuk menyiapkan barang bekal yang akan kita bawa. Peralatan tersebut ada gelas, piring, panci, pisau, ceret, bumbu-bumbu seperti garam, masako, kecap, gula, kopi, minyak gas/minyak tanah, beras, korek api dan lainnya.

Jam 13.45 empat perahu ketinting sudah diparkir di pinggir sungai di belakang mes sekolah kami, waktu itu kami segera bersiap tentunya dengan pakaian pelampung, hehe. Teriakan suara siswa-siswa kami “Bu, cepetan segera naik ke ketinting !!” ini merupakan perjalanan pertama kami menaiki ketinting, karena sebelumnya kita untuk menuju Long Berang ini naik *Long Boat yaitu perahu kayu yang lebih besar dari ketinting.
 
naik ketinting *perahu kayu kecil
Saatnya petualangan baru dimulai, setiap ketinting diisi 4-5 orang berarti ada sekitar 16-20 orang yang ikut mecari ikan dan perempuan yang ikut hanya 5 orang saja yakni aku, Dwining, Ika, Bu Mari, dan Bu Lia. Perjalanan kami menuju hilir anras yang kita tuju sangat menyenangkan sekali, sensasi naik ketinting perjalanan menyusuri sungai yang jernih dan pemandangan hutan belantara yang hijau, ditambah kami menaiki ketinting milik siswa kami. Mereka begitu pandai menjadi motorist ketinting dan juru batu perjalanan. Sembari berfoto ria mendokumentasikan moment juga menikmati indahnya alam di pedalaman Kalimantan ini.
 
ketinting yang sengaja di parkir di pinggir sungai
Perjalanan sekitar 15 menit, tiba-tiba perahu kami di pinggirkan begitu aja, dan tiba-tiba dua siswa kami langsung terjun ke air dengan menggunakan senjata penembak ikan. Karena kita diparkir di pinggir jadi aku dan Dwining hanya duduk diatas ketinting sambil menunggu mereka, kemudian aku foto-foto, baru sekejap kita berhenti tau-taunya Alex sudah dapat hasil tangkapan. Begitu keren sekali, mereka adalah penyelam-penyelam hebat di tengan-tengah deras dan jernihnya sungai di Kalimantan. Kemudian perahu kami dipinggirkan ke samping menuju anras.
 
rebus air di pinggir anras sungai Mentarang
Sambil menunggu anak-anak menyelam, Pak Marthen dan Pak Forret memancing dan berburu, yang perempuan merebus air dan membuat kopi. Kemudian menanak nasi dan membakar hasil tangkapan ikan yang pertama. Ikan yang kami bakar hanya kita bumbui dengan garam dan masak saja, ikan pertama yang kita bakar namanya adalah ikan Pelian. Agak lumayan besar ikan ini, sambil menunggu Pak Eko menjala juga, kita yang perempuan ngobrol dan berfoto-foto di anras. Sekitar jam 16.30 para penyelam sudah kembali datang dengan hasil tangkapan mereka. Semakin penasaran dengan hasil tangkapannya, ternyata benar sekali ikan yang diperoleh sangat besar-besar dan jumlahnya lumayan banyak. Kemudian ikan-ikan itu kita bersihkan dan kita bakar di anras untuk dimakan secara bersama-sama.
 
bakar ikan Pelian *hasil menyelam
Moment seperti inilah yang aku suka, bisa berkumpul bersama menyatu dengan masyarakat asli suku Dayak Londayeh, walaupun kita masing-masing berbeda agama, suku dan bahasa namun kita bisa menyatu seperti layaknya saudara. Moment kebersamaan yang sangat menyenangkan, kita ngobrol, bercanda,  dan makan bersama dengan alas daun pisang. Be a great day.
 
hasil tangkapan ikan yang diperoleh
Waktu itu jam udah menunjukkan jam 17.00 namun, ternyata mereka belum puas mencari ikan, untuk itu para penyelam-penyelam hebat siswa kami akan melanjutkan kembali mencari ikan. Sedangkan kami ibu-ibu ditemani Pak Eko Agus kita ngobrol bareng di anras sambil menunggu kepulangan para penyelam pencari ikan. Jam 21.30 ketinting sudah datang kembali dengan membawa hasil tangkapan ikan yang cukup banyak untuk itu kami bersiap untuk kembali ke kampong Long Berang tepatnya di mes sekolah. Waktu itu adalah pengalaman pertama kami naik ketinting pada malam hari, yang hanya diterangi oleh lampu senter, menembus jalan sungai di tengahnya gelapnya hutan belantara Kalimantan, tentunya perjalanan ini menjadi perjalanan yang sangat sensasional dan mengandung banyak cerita petualangan.
 
kumpul bersama guru dan siswa Long Berang *menyatu di alam
Sesampainya di mes hasil tangkapan ikan yang diperoleh dibagi ke kami dan kami diberikan 1 ikan baung dan 2 ikan pelian yang besar-besar, Alhamdulillah bisa untuk lauk esok hari. Pokoknya petualangan mencari ikan di sungai waktu itu menjadi peristiwa yang luar biasa bagi kami. Good moment ^ ^.

Selasa, 24 September 2013

Refreshing Sejenak di Air Terjun Kembar Long Berang Mentarang Hulu

Minggu, 22-9-2013 pagi jam 5.30 kita sholat subuh dan mencuci pakaian, karena kita belum memiliki minyak tanah kita harus membeli di kampung yang jarak dari mess sekolah kita harus berjalan kurang lebih 1 km. Setelah minyak kita dapatkan segera kita memasak nasi, tumis tempe dan menggoreng telur. Siang itu adalah makan siang pertama kita di desa Long Berang yang sungguh sangat nikmat luar biasa. Kemudian kita mandi dan diajakin oleh Pak Bustang menuju air terjun Kembar di Long Berang. 
jalan menuju kampung desa Long Berang dipinggir terlihat sungai Mentarang
Jam 14.00 kita mulai perjalanan menuju air terjun Kembar dengan jalan kaki, kita melewati perkampungan, SD dan juga jembatan gantung. Ternyata untuk menuju air terjun ini kita harus menyusuri sungai kecil yang dangkal dan airnya jernih. Pemandangan di kanan-kiri sungai adalah hutan hujan tropis basah yang sangat lebat. Tentunya dengan suasana yang sangat asri dan indah, *saatnya petualanganku dimulai dari sini.
 
sungai di Long Berang di percabangan sungai Mentarang
Menyusuri sungai kecil yang dangkal ternyata tidak mudah juga, sesekali tergelincir batuan yang licin sehingga hampir jatuh ke sungai, kadang harus naik-turun igir-igir sungai. Butuh waktu sekitar 30 menit perjalanan dengan jalan kaki untuk menuju air terjun Kembar ini, sampai di lokasi kita baru tau kalau air terjun ini ada 2 dan memiliki ketinggian yang sama dan bermuara di satu tempat, untuk itu masyarakat setempat menamainya dengan sebutan *air terjun Kembar. 
air terjun kembar
Tadinya kita sampai di air terjun ini hanya 6 orang kemudian banyak penduduk yang ikut sehingga ada sekita 12 orang dan semuanya terjun merasakan dinginnya air terjun Kembar ini. Kata penduduk lokal kalau pengunjung yang datang harus mandi dan merasakan air terjun ini, pada awalnya kita yang perempuan tidak mau mencoba untuk menceburkan diri, namun karena dipaksa dan tidak enak untuk menolak akhirnya aku dan Dwining menceburkan diri ke dalam air terjun, *seru juga.
 
menceburkan diri di air hehe
Setelah puas basah-basahan dan foto bersama kemudian kita segera kembali ke mess sekolah untuk bersih-bersih diri dan makan malam. Ternyata malam nanti ada acara nonton bareng final piala AFF U-19 antara Indonesia dengan Vietnam, kebetulan lokasi untuk nonbar ini ada di depan mess sekolah kami. Wajar kalau disini ada acara nonton bersama karena tidak ada listrik dan hanya memakai genset, sehingga TV disalurkan dengan LCD dan menggunakan layar yang lebar, setelah jam 20.00 penduduk sekitar berdatangan untuk menonton pertandingan tersebut padahal jam 21.00 WITA pertandingan baru dimulai, namun penduduk sudah ramai berdatangan. Kita sebagai pendatang baru ikut menyaksikan pertandingan ini, walaupun besok pagi hari Senin dan kita harus upacara bendera pagi-pagi. Serunya menonton pertandingan sepak bola baru aku rasakan malam ini, tidak tau kenapa bersama suku Londayeh yang tentunya berbeda bahasa dan budaya namun kami bisa menyatu begitu saja. Pertandingan tersebut akhirnya dimenangkan oleh tim Indonesia dengan adu tendangan pinalti.

Minggu, 22 September 2013

Pemberangkatan SM3T Menuju Lokasi Pengabdian di Long Berang Mentarang Hulu Kabupaten Malinau


Sabtu, 21-9-2013, kita berempat yakni Amin Fitriyah, Dwiningsih Afriati, Ika Novita Sari dan Joko Seko Santoso bersiap diri untuk naik longboat, sebelumnya kita mengangkut barang-barang  ke perahu terlebih dulu, dengan berbekal baju pelampung yang diwariskan oleh kakak SM3T angkatan II, pelampung tersebut langsung kita pakai demi keamanan saat perjalan menyusuri sungai. Perasaan jantung deg-degan dan was-was menggelayuti pikiran masing-masing, karena ini adalah pengalaman baru kita menggunakan alat transportasi seperti ini, apalagi masyarakat bilang bahwa kedalaman sungai Mentarang ini sekitar kurang lebih 10 meter, sangat begitu dalam. *Bismillah kita berdoa di dalam hati dan memulai perjalanan menyusuri sungai.
 
pemberangkatan menggunakan *Longboat perahu kayu besar
Longboat yang kita tumpangi sering bergoyang ke kiri dan kanan untuk itu kita disarankan untuk duduk di tengah-tengah perahu dan tidak boleh bersandar di samping dek perahu. Perjalanan kita lalui dengan melewati hutan belantara Kalimantan yang sangat lebat. Akhirnya aku bisa menyaksikan langsung *lebatnya hutan hujan tropis di pedalaman Kalimantan yang sungguh sangat luar biasa. Pohon-pohon besar dan semak-semak belukar yang sangat sulit untuk ditembus, semua terhampar dan berwarna hijau tua *subhanalloh hati ini berdecak kagum. Batu-batuan yang berada di pinggir-pinggir sungai rata-rata adalah batuan besar yang sudah tererosi secara alami oleh arus sungai, yang menyebabkan bentuknya sangat beraneka ragam.
 
menarik perahu saat di giram Belalau *giram paling besar
Perjalanan menuju Long Berang ini kita harus melewati 2 giram yang besar yaitu giram Kayan dan giram Belalau. Giram itu sejenis jeram yang sangat besar sehingga untuk naik ke hulu perahu harus melawan arus sungai, dan melawan gesekan batu-batuan besar yang menghalang. Ketika melewati giram Kayan longboat yang kita tumpangi bergoyang luar biasa, namun dengan keahlian sang motorist yang sudah terbiasa melewati jalur ini, akhirnya giram Kayan berhasil dilewati juga, alhamdulillah.
 
istirahat di anras untuk makan siang setelah melalui giram Belalau
Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan kita berhenti sejenak di pinggir sungai untuk makan siang, untungnya kita membawa bekal nasi bungkus dan oseng tempe yang dibuatkan oleh mb Puput & mb Desi. Jadi pada saat istirahat kita bisa makan bekal bersama, selang waktu beberapa menit kita harus melanjutkan perjalanan kembali, efek perut yang sudah kenyang dan tiupan angin sungai membuat mata kita terasa ngantuk. Namun rasa ngantuk itu dikejutkan oleh teriakan sang awak perahu longboat, dimana kita akan segera melewati giram yang paling besar yaitu giram Belalau. Untuk itu sebelum melewati giram ini longboat menepi dan semua penumpang turun, lalu longboat ditarik keatas. Benar-benar merupakan perjalanan yang luar biasa, untuk menuju lokasi penempatan SM3T di Long Berang ini. Akupun sangat bersyukur mendapatkan lokasi penempatan yang sangat *sensasional ini, Alhamdulillah.
 
melanjutkan perjalanan kembali menuju desa Long Berang
Mesin longboat yang kita tumpangi mati, sehingga perahu berjalan mundur mengikuti arus sungai, perasaan takut dan was-was muncul lagi. Mesin longboat berusaha untuk dihidupkan namun tidak juga menyala, akhirnya kita menepi dan menunggu perbaikan mesin. Benar-benar sensasional, dalam hati ini berdoa agar mesin longboat bisa nyala kembali, selang beberapa menit kemudian Alhamdulillah mesin bisa dihidupkan kembali. Kita segera melanjutkan perjalanan menuju tempat lokasi pengabdian yakni di desa Long Berang. Sekitar pukul 16.30 kita sampai di Long Berang, kita diantar oleh Pak Djesli M, S.Pd K (Kades) ke mess yang akan kita tempati. Ternyata lokasi sekolah yang akan kita ajar berada di pinggir sungai termasuk mess yang kita tumpangi. Sehingga sungai ini selayaknya jalan raya karena dipakai berlalu lalang ketinting dan longboat. Alhamdulillah kita sampai dengan selamat, dan aku bahagia bisa merasakan perjalanan ini.
 
mes sekolah kami di Long Berang Mentarang Hulu
Sesampainya kita di mess disambut oleh beberapa guru pengajar yang sama-sama tinggal di mess sekolah, semuanya ramah-ramah dan rata-rata mereka berbicara dengan keras dan cepat dengan logat suku Dayak aslinya. Ada Pak Berly Sakay, Pak Bustang, Pak Ali dan Pak Agus. Kemudian kita beres-beres menata barang bawaan kita ke dalam kamar masing-masing. Malam itu kita belum sempat masak dan karena kelelahan perjalanan tadi siang kita istirahat lebih awal dari biasanya.

Menyalakan Pengabdian Di Pelosok Negeri Di Kabupaten *Malinau

Mengikuti program SM3T merupakan bagian dari mimpiku *yaitu merasakan mengajar di daerah pedalaman. Semua itu berawal dari keinginan kuatku mencoba mendaftar di IM (Indonesia Mengajar angkatan VII) yang hanya sampai pada tahap Dirrect Assesment II, belum diterimanya di IM tidak menyurutkan niatku untuk mencoba di plan kedua yakni mendaftar di SM3T yang berujung pada diterimanya aku dan ditempatkan di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Sebenarnya aku ingin sekali mendapatkan penempatan di NTT, namun apa boleh buat semua sudah terjadi dan percaya bahwa itu semua adalah pilihan tempat terbaik buatku.
prakondisi at AAU
Prakondisi dimulai dari tanggal 2-12 September 2013 bertempat di AAU Yogyakarta yang tentunya banyak pelajaran hidup yang dapat diambil terutama cara bertahan untuk tetap survive, disiplin, dan pengabdian yang tulus. Keseharian kita di AAU bernyanyi dengan syair lagu seperti dibawah ini:
“Tinggalkan ayah tinggalkan ibu
Izinkan kita pergi berjuang
Dibawah kibaran sang merah putih
Majulah ayo maju bangsaku
            Tidak kembali pulang
            Sebelum kita yang menang
            Walau rasa rindu tak tertahankan
            Demi bangsa ku rela berjuang
Maju ayo maju ayo terus maju Indonesiaku
Kikis habis kebodohan demi bangsamu
Wahai kawanku SM3T dimana engkau berada
Teruskan perjuangan para pahlawan
Demi bangsa ku rela berkorban”
Lagu tersebut selalu kita nyanyikan bersama dengan kompak dan suka ria, namun jika kita nyanyikan ketika waktu pemberangkatan dari UNY, sepertinya suara kita tak sampai untuk menyanyikannya dengan lantang, *sedih terasa.

Hari Senin, 16-9-2013 pemberangkatan dari UNY, kebetulan kabupaten Malinau dibagi menjadi dua kloter, dan aku kebagian brangkat di kloter 1, dimulai dengan upacara pelepasan di halaman Auditorium UNY, aku diantar oleh bapak, pakde Tupon, mb Jinem dan Tobing. Semuanya menyaksikan upacara pelepasan dan melepas kepergianku ke daerah pengabdian. Tangis haru pecah waktu itu, kita harus segera naik bis dan menuju bandara Adisucipto Yogyakarta. Waktu itu juga dalam perjalanan menuju bandara isak tangis masih menyertaiku.
at Bandara Adisucipto Yogyakarta
Dari bandara Adisucipto, kita take off jam 10.00 perjalanan menuju bandara Sepinggan Balikpapan, dan ini merupakan *my first flight, ternyata terwujud juga merasakan naik pesawat. Perjalanan kita tempuh selama kurang lebih 1 jam 20 menit, namun karena ada perbedaan waktu 1 jam kita sampai di bandara Sepinggan pukul 12.20. Kita hanya transit sebentar, jam 13.00 kita segera prepare untuk naik pesawat kembali menuju Pulau Tarakan dan perjalanan sekitar 1 jam. Sampailah kita di bandara Internasional Juwata, Tarakan. Jika dilihat dari struktur kotanya Tarakan sudah merupakan kota yang lumayan maju, hampir sama dengan Jogja namun masih sangat sepi, di Tarakan ini kita peserta SM3T nginep di Paradise Hotel.
at Bandara Internasional Juwata Tarakan
Selasa, 17-9-2013 setelah makan siang jam 11.30 kita segera bersiap menuju bandara Juwata Tarakan, untuk menuju ke Kabupaten Malinau, dan ini merupakan naik pesawat yang ketiga kalinya namun pesawat yang kita tumpangi pada waktu kali ini agak lebih kecil dan hanya berisi sekitar 45 penumpang. Kita naik pesawat *Kalstara hanya dengan waktu tempuh 20 menit dan sampailah kita di bandara RA Bessing Malinau. Hawa panas sudah merupakan hal yang biasa disini, keringat bercucuran dan kita disambut dengan kakak sekaligus koordinator angkatan SM3T yg ke-2 yaitu ms Umar Mustofa.
bertemu dengan colonel ms Umar Mustofa
Sambil menunggu kedatangan dari pemberangkatan kloter 2, kita menginap di *Chery Hotel yang lokasinya sangat dekat dengan bandara RA Bessing Malinau. Kita rehat sebentar dan jam 16.00 ada pertemuan dan pengarahan dari kakak2 SM3T yang sebelumnya, kita sharing informasi dan pengalaman2 sampai pukul 21.00. Pertemuan itu menjadi suatu hal yang sangat berharga bagi kita karena kita sangat butuh pencerahan berbagai informasi.
penyerahan warisan pelampung dari kakak SM3T angkatan II ke angkatan III
Rabu, 18-9-2013 ada acara penerimaan siswa SM3T angkatan III, dan pelepasan siswa SM3T angkatan II waktu itu semua peserta berkumpul dan dihadiri pula oleh berbagai kepala sekolah di seluruh Kabupaten Malinau. Setelah acara penerimaan dan pelepasan saatnya pembagian sekolah dan aku mendapatkan penempatan di daerah Long Berang yaitu di Mentarang Hulu. Melihat peserta SM3T yang mendapatkan di kota agak iri juga, namun semua itu pasti ada hikmahnya dibalik penempatan di setiap daerah. Aku harus menerimanya dengan ikhlas. Perjalanan menuju Long Berang harus ditempuh dengan naik longboat yaitu perahu motor selama 6 jam. Namun waktu itu kepala sekolah dari SMA N 11 Malinau belum hadir, jadi kita singgah di desa Lidung Kemenci Kecamatan Mentarang terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan dari Kepala Sekolah.

Kamis, 19-9-2013 kita masih singgah di Lidung Kemenci Kecamatan Mentarang, sambil menunggu kedatangan pak Marten, akhirnya beliau sampai sekitar pukul 16.30. Di rumah singgah sementara ini berkenalan dengan anak-anak kecil seusia SD anak asli suku Londayeh Dayak, cukup untuk menghibur di desa Lidung Kemenci ini. Kebetulan waktu itu kita diundang ke tempat Bude untuk tahlilan memperingati kematian, habis maghrib kita menuju tempat bude, dan sekitar pukul 20.30 kita ditelfon untuk segera menuju rumah Pak Marten. Kita sharing mengenai apa aja yang harus dipersiapkan untuk dibawa ke Long Berang, kita bertanya macam-macam mengenai kondisi geografis dan keadaan masyarakat di Long Berang sampai pukul 21.30. Kita akan berangkat ke Long Berang hari Sabtu, untuk itu kita masih ada waktu untuk belanja berbagai kebutuhan dan peralatan di Malinau kota.
singgah di rumah Pak Simson Lidung Kemenci, Mentarang Hilir
Jumat, 20-9-2013 aku, Dwining, Ika, dan Joko kita berempat naik taksi jam 8.00 menuju Malinau Kota, kebetulan pemilik taksi ini Bang Alex namanya, dia juga sering berangkat tahlilan di tempat Budhe, jadi setidaknya kita sudah agak kenal. Sehingga untuk naik taksi ini kita tinggal telephone Bang Alex dan dijemputlah kita di depan rumah. Jangan pernah dikira kalau taksi di Malinau sama seperti taksi di Jawa, hehe kalau taksi disini menggunakan kol yang ada baknya kemudian diatas dikasih penutup, kalau taksi milik Bang Alex adalah mobil *carry warna hijau yang bisa mengangkut kurang lebih 8 orang, keren sekali pokoknya. Waktu itu kita sudah list daftar barang kebutuhan dan peralatan yang harus kita beli. kita iuran Rp 500.000 jadi terkumpul sebanyak Rp 2.000.000. Hanya dengan waktu 2 jam uang kita habis untuk membeli segala macam kebutuhan, dari beras, telur, minyak, tepung terigu, mie, peralatan masak, peralatan makan, sampai dengan kasur lantai, *maklum harga barang di Malinau cukup melambung tinggi dan wajar kalau semuanya mahal.

Untungnya Bang alex ngasih informasi kalau beli peralatannya di Toko Surabaya yang harganya leih murah dibandingkan yang lain, setelah selesai belanja bumbu dapur ternyata kita sudah ditunggu untuk diantar pulang dengan taksi Bang Alex kembali. Perjalanan pulang kembali menuju Lidung Mentarang Hilir sangat sensational, karena taksi Bang Alex penuh dengan barang belanjaan, termasuk pakan ternak ayam yang baunya luar biasa sedap campur baur dengan solar dan keringat manusia, waktu itu merupakan perjalanan yang seru sekali dengan taksi mobil carry.

Sampailah kita di rumah dengan membawa banyak sekali barang, mb Puput & mb Desi heran melihat banyaknya barang bawaan kita. Kemudian kita istirahat sebentar, sore hari sekitar pukul 17.00 kita ke tempat Budhe untuk bantu-bantu mempersiapkan hajat peringatan 7 hari almarhum, sekalian kita diundang untuk ikut tahlilan dan yasinan lumayan kita jadi dapat banyak rizki dari acara hajatan itu. Kebetulan Pak Marten juga ikut hadir dan memberitahu kita bahwa besok jam 8.00 kita harus siap-siap untuk naik ke Long Berang, Mentarang Hulu.

Sabtu, 21-9-2013 jam 08.00 kita semua sudah mandi dan makan nasi kotak yang kita peroleh dari hajatan peringatan 7 hari di tempat Budhe, namun Pak Marten menghubungi ternyata *longboat yang akan kita tumpangi naik jam 10.30 tadinya kita sudah siap namun kita bisa bersantai kembali, dan memanfaatkan moment untuk foto bersama mb Puput & mb Desi *mereka berdua adalah siswa SM3T angkatan II dari UNDANA, kita sudah seperti saudara.
Prepare sebelum pemberangkatan menuju desa Long Berang
Jam 10.30 Pak Marten ke rumah yang kita singgahi dan memberitahu kita untuk segera bersiap dengan barang bawaan menuju Pulau Sapi. Untuk menuju lokasi pemberangkatan kita diangkut dengan menggunakan mobil *Strada Triton menuju tepian sungai di Pulau Sapi. Melihat begitu lebarnya sungai semakin menggetarkan hati dan timbullah perasaan was-was dan takut. Kita berempat langsung pasang pelampung, padahal longboat belum datang juga. Tidak menunggu lama longboat yang akan kitatumpangi datang juga, kita naik ke Long Berang dijemput oleh Pak Kades Long Berang, kebetulan Pak Kades ini masih bujang dan di sekolah Long Berang juga mengampu pelajaran agama Kristen Protestan. Namun orangnya sangat friendly dan ceria. Saatnya perjalanan naik longboat perahu motor dimulai.