Jumat, 01 November 2013

Realita Kondisi Pendidikan Di Pedalaman Desa Long Berang Mentarang Hulu

Sejak kedatanganku di penempatan SM3T di desa Long Berang Kecamatan Mentarang Hulu kabupaten Malinau ini, banyak sekali realita pendidikan yang aku temui. Sebenarnya kasihan juga aku melihat nasib anak-anak bangsa di pelosok Negeri ini, sudah SMP namun ada yang masih belum bisa baca dan masih mengeja, belum bisa berhitung, perhitungan dasar juga masih banyak yang belum bisa. Kekurangan guru dan tenaga profesional mengajar sangatlah kurang di sekolah ini, banyak guru PNS yang jarang masuk dan yang mampu bertahan untuk mengajar hanyalah guru kontrak dan guru honorer.
SMP N 1 Mentarang Hulu

Letak sekolah kami berada  di hulu sungai Mentarang, jadi kita berada di atas bukit di Mentarang Hulu, transportasi untuk menuju daerah ini hanyalah menggunakan perahu kayu seperti Longboat dan Ketinting. Tidak ada jalan darat, jadi tidak ada mobil, bis, bahkan motor pun hanya ada 2 atau 3 yang dimiliki oleh petugas kecamatan. Terbatasnya akses menuju lokasi ini sehingga jumlah penduduk yang tinggal disini hanya sedikit. Untuk itu daerah ini sangat terisolasi karena keterjangkauan transportasi menuju lokasi tempat ini.

Setiap hari anak-anak selalu memperoleh bentakan bahkan pukulan dengan kayu penggaris maupun kayu rotan, hukuman fisik masih sering diterapkan di sekolah ini. Anak-anak selalu diceramahi soal kedisiplinan namun guru-guru yang ada disini jarang sekali untuk bisa disiplin mengajar, sangat ironis memang. Selain itu cara pengajaran yang diterapkan oleh guru-guru disini sangat monoton dan kurang berkembang. Tidak ada media yang menarik yang dapat guru sampaikan. Guru-guru masuk kelas untuk mau mengajar itu sudah merupakan nilai plus, jadi bentuk ngajarnya seperti apa itu sudah nomor dua. Siswa paham dengan materi yang disampaikan maupun tidak itu bukan menjadi suatu alasan demi tercapainya tujuan pembelajaran di kelas. Sehingga  belajar menjadi suatu hal yang menakutkan di kelas dan pasti terasa membosankan bagi siswa.
 
siswa SMP N 1 Mentarang Hulu
Untuk itu kesempatanku untuk mengajar di sekolah ini adalah merubah metode cara penyampaian belajar *fun learning yang lebih menyenangkan. Memberikan beberapa *ice breaking di setiap kelas yang aku ajar agar siswa merasa senang dan tidak bosan. Aku suka mengajar karena bisa sharing berbagai ilmu dan transfer knowledge maupun transfer value. Mengajar bagiku adalah sebuah panggilan hati, di sekolah ini aku selalu memotivasi mereka untuk terus berani bermimpi dan menggapai cita-cita setinggi mungkin. Aku tau mereka adalah anak-anak yang lahir di daerah pedalaman tapi aku percaya mereka memiliki kesempatan sama untuk memiliki mimpi-mimpi dan meraihnya.
 
siswa SMA N 11 Malinau yang masih menggunakan ruangan perpustakaan SMP N 1 Mentarang Hulu
Di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal disini tepatnya di daerah tapal batas dengan Malaysia, dengan waktu satu tahun yang singkat ini akan aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Berbagi pengalaman dengan mereka, belajar bersama mereka, dan bersosialisasi bahkan menjadi bagian dari keluarga mereka. Di pedalaman desa Long Berang ini aku bersyukur walaupun dengan segala keterbatasan akses transportasi, listrik dan bahan kebutuhan logistik, namun aku merasakan kebahagiaan bersama masyarakat suku Dayak Lundayeh disini. Mengenal budaya dan tradisi masyarakat yang ada, belajar bahasa mereka dan bernyanyi lagu daerah dengan mereka menjadi suatu hal yang menyenangkan.

3 komentar:

  1. Pa'cikgu Long Berang14 April 2014 23.48

    pantang nyerah cikgu...perjuanganmu pasti suxes, wujudkan keinginan mereka u/ meraih cita2. GBU.[ pa'cikgu...long berang ]

    BalasHapus
  2. makasih pak,, setahun sudah mengabdi di Long berang sungguh pengalaman hidup yang luar biasa,,

    BalasHapus