Minggu, 22 September 2013

Pemberangkatan SM3T Menuju Lokasi Pengabdian di Long Berang Mentarang Hulu Kabupaten Malinau


Sabtu, 21-9-2013, kita berempat yakni Amin Fitriyah, Dwiningsih Afriati, Ika Novita Sari dan Joko Seko Santoso bersiap diri untuk naik longboat, sebelumnya kita mengangkut barang-barang  ke perahu terlebih dulu, dengan berbekal baju pelampung yang diwariskan oleh kakak SM3T angkatan II, pelampung tersebut langsung kita pakai demi keamanan saat perjalan menyusuri sungai. Perasaan jantung deg-degan dan was-was menggelayuti pikiran masing-masing, karena ini adalah pengalaman baru kita menggunakan alat transportasi seperti ini, apalagi masyarakat bilang bahwa kedalaman sungai Mentarang ini sekitar kurang lebih 10 meter, sangat begitu dalam. *Bismillah kita berdoa di dalam hati dan memulai perjalanan menyusuri sungai.
 
pemberangkatan menggunakan *Longboat perahu kayu besar
Longboat yang kita tumpangi sering bergoyang ke kiri dan kanan untuk itu kita disarankan untuk duduk di tengah-tengah perahu dan tidak boleh bersandar di samping dek perahu. Perjalanan kita lalui dengan melewati hutan belantara Kalimantan yang sangat lebat. Akhirnya aku bisa menyaksikan langsung *lebatnya hutan hujan tropis di pedalaman Kalimantan yang sungguh sangat luar biasa. Pohon-pohon besar dan semak-semak belukar yang sangat sulit untuk ditembus, semua terhampar dan berwarna hijau tua *subhanalloh hati ini berdecak kagum. Batu-batuan yang berada di pinggir-pinggir sungai rata-rata adalah batuan besar yang sudah tererosi secara alami oleh arus sungai, yang menyebabkan bentuknya sangat beraneka ragam.
 
menarik perahu saat di giram Belalau *giram paling besar
Perjalanan menuju Long Berang ini kita harus melewati 2 giram yang besar yaitu giram Kayan dan giram Belalau. Giram itu sejenis jeram yang sangat besar sehingga untuk naik ke hulu perahu harus melawan arus sungai, dan melawan gesekan batu-batuan besar yang menghalang. Ketika melewati giram Kayan longboat yang kita tumpangi bergoyang luar biasa, namun dengan keahlian sang motorist yang sudah terbiasa melewati jalur ini, akhirnya giram Kayan berhasil dilewati juga, alhamdulillah.
 
istirahat di anras untuk makan siang setelah melalui giram Belalau
Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan kita berhenti sejenak di pinggir sungai untuk makan siang, untungnya kita membawa bekal nasi bungkus dan oseng tempe yang dibuatkan oleh mb Puput & mb Desi. Jadi pada saat istirahat kita bisa makan bekal bersama, selang waktu beberapa menit kita harus melanjutkan perjalanan kembali, efek perut yang sudah kenyang dan tiupan angin sungai membuat mata kita terasa ngantuk. Namun rasa ngantuk itu dikejutkan oleh teriakan sang awak perahu longboat, dimana kita akan segera melewati giram yang paling besar yaitu giram Belalau. Untuk itu sebelum melewati giram ini longboat menepi dan semua penumpang turun, lalu longboat ditarik keatas. Benar-benar merupakan perjalanan yang luar biasa, untuk menuju lokasi penempatan SM3T di Long Berang ini. Akupun sangat bersyukur mendapatkan lokasi penempatan yang sangat *sensasional ini, Alhamdulillah.
 
melanjutkan perjalanan kembali menuju desa Long Berang
Mesin longboat yang kita tumpangi mati, sehingga perahu berjalan mundur mengikuti arus sungai, perasaan takut dan was-was muncul lagi. Mesin longboat berusaha untuk dihidupkan namun tidak juga menyala, akhirnya kita menepi dan menunggu perbaikan mesin. Benar-benar sensasional, dalam hati ini berdoa agar mesin longboat bisa nyala kembali, selang beberapa menit kemudian Alhamdulillah mesin bisa dihidupkan kembali. Kita segera melanjutkan perjalanan menuju tempat lokasi pengabdian yakni di desa Long Berang. Sekitar pukul 16.30 kita sampai di Long Berang, kita diantar oleh Pak Djesli M, S.Pd K (Kades) ke mess yang akan kita tempati. Ternyata lokasi sekolah yang akan kita ajar berada di pinggir sungai termasuk mess yang kita tumpangi. Sehingga sungai ini selayaknya jalan raya karena dipakai berlalu lalang ketinting dan longboat. Alhamdulillah kita sampai dengan selamat, dan aku bahagia bisa merasakan perjalanan ini.
 
mes sekolah kami di Long Berang Mentarang Hulu
Sesampainya kita di mess disambut oleh beberapa guru pengajar yang sama-sama tinggal di mess sekolah, semuanya ramah-ramah dan rata-rata mereka berbicara dengan keras dan cepat dengan logat suku Dayak aslinya. Ada Pak Berly Sakay, Pak Bustang, Pak Ali dan Pak Agus. Kemudian kita beres-beres menata barang bawaan kita ke dalam kamar masing-masing. Malam itu kita belum sempat masak dan karena kelelahan perjalanan tadi siang kita istirahat lebih awal dari biasanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar