Minggu, 18 Desember 2011

GUNUNG BROMO: GUNUNG INDAH DI DUNIA


“Siapa yang tak tahu gunung Bromo? Kawah yang mengepul dari gunung tersebut menjadi pemandangan yang memesona. Belum lagi puncak Pananjakan, yang dari sini wisatawan bisa menikmati sinar jingga matahari terbit yang lamat-lamat menyinari Gunung Bromo, Gunung Batok dan Gunung Semeru, selalu berhasil membuat decak kagum.”

Akses menuju gunung Bromo dapat ditempuh melalui Malang, Pasuruan, Lumajang dan Probolinggo yang dinilai akses paling strategis karena dapat menghubungkan jalur wisata lainnya seperti ke Bali maupun Yogyakarta melalui jalur Pantura Jawa Timur.
Posisi tersebut, yang dibarengi dengan besarnya daya tarik kawasan wisata gunung Bromo, memungkinkan kabupaten seluas lebih dari 1.696,17 km2 ini bisa menyediakan fasilitas maupun sarana-sarana yang mendukung wisata di gunung tersebut, dengan maksud agar membuka potensi-potensi wisata lingkungan lainnya di Kabupaten Probolinggo.
Potensi
Kabupaten Probolinggo memang bukannya tidak memiliki potensi wisata untuk dikembangkan. Tengok saja, wisata gunung sampai laut di Selat Madura membuat kabupaten ini memiliki peluang besar untuk “menggarap” para wisatawan yang melewati daerah di sebelah tenggara Surabaya ini.
Sebagai contoh, di Selat Madura ada Pulau Gilikketapang yang sejatinya tentu bisa menunjang wisata bahari. Pulau Giliketapang berjarak 5 mil dari Pelabuhan Ujung Tembaga, dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 30 menit dengan naik perahu motor. Di pulau seluas 68 ha ini, sebagian besar penduduknya adalah suku Madura dan hampir 90% terdiri dari para nelayan yang menggantungkan hidupnya di laut.
Menurut situs resmi Kabupaten Ketapang, yang unik dari pulau tersebut adalah kepercayaan masyarakat setempat tentang asal-usul nama Gili Ketapang. Dikatakan bahwa pulau ini memiliki tenaga ghaib yang dapat bergerak lamban di tengah laut. Semula pulau ini menjadi satu dengan daratan Desa Ketapang, ketika gunung Semeru Meletus, terjadilah gempa bumi yang dahsyat sehingga sebagian daratan desa Ketapang terpisah ke tengah laut sekitar 5 mil dari kota Probolinggo sebagian daratan itu menjadi sebuh pulau yang bergerak. Oleh sebab itu masyarakat setempat menyebut pulau tersebut dengan nama Gili Ketapang berasal dari bahasa Madura yang artinya mengalir, sedangkan Ketapang adalah nama asal desanya.
Potensi wisata bahari lainnya diproyeksikan pada pengembangan Pantai Bentar dengan upaya reklamasi. Tujuan reklamasi itu untuk menyediakan ruang tambahan bagi penyediaan fasilitas penginapan wisatawan. Sementara itu, potensi-potensi wisata lainnya meliputi pemandangan laut di Paiton, arung jeram di Sungai Pekalen dan wisata agribisnis di Kecamatan Krucil.
Di sisi lain, Kabupaten Probolinggo tampaknya juga menjanjikan peluang usaha yang mendukung pariwisata, khususnya di gunung Bromo. Usaha tersebut misalnya penginapan, karena umumnya orang-orang yang pergi ke Bromo akan berangkat dini hari untuk “mengejar” matahari terbit; transportasi yang mampu membawa wisatawan ke kawasan wisata gunung Bromo;guide; atau menyediakan informasi yang dibutuhkan agar wisatawan juga merasa tenang dan senang. [ditulis dan ditambahkan dari Sumber: ASP Kompas, 13/12/11]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar