Senin, 16 Maret 2015

Mengunjungi Desa Wisata Setulang Malinau Selatan Hilir Kabupaten Malinau

Senin, 30-06-2014 kebetulan ini adalah hari ke-2 puasa Ramadhan, setelah berlibur untuk beberapa hari di kota, akhirnya aku memutuskan untuk ikut temanku (*Dwi Indaryanti) ke Setulang. Sudah sekian lama aku ingin mengunjungi icon desa wisatanya kabupaten Malinau ini. Untuk perjalanan menuju desa Setulang ini kita harus naik taksi yaitu mobil bak terbuka yang belakangnya ada kursi panjangnya, nah itu yang dinamakan taksi disini, jangan harap taksi di sini sama dengan mobil-mobil sedan seperti di jawa. Perjalanan dari kota Malinau ke Setulang ini kurang lebih ditempuh selama 1 jam perjalanan, namun karena taksi sering singgah untuk menjemput penumpang di suatu tempat, perjalanan bisa ditempuh lebih dari 1 jam. Tarif harga naik taksi Rp 30.000 itu sudah merupakan harga standar di sini. Selain itu untuk naik taksi ke tempat ini kita harus sedia masker atau slayer karena separuh perjalanan jalan belum beraspal dan sangat berdebu. Akhirnya setelah melewati berbagai medan jalan sampailah kita di mes SMP N 1 Malinau Selatan yaitu tempat tinggal Dwi Indaryanti temanku di sini.
*Selamat datang di desa Setulang
Selasa, 1-07-2014 merupakan hari ke-3 puasa Ramadhan, sama seperti di tempatku Long Berang, di Setulang juga tidak ada mushola atau masjid, karena mayoritas masyarakat di sini adalah Suku  Kenyah Ma’ Lung yang semuanya beragama Kristen. Tentunya yang beragama muslim hanya kami pengajar SM3T, untuk itu pada malam bulan Ramadhan ini kita sholat Tarawih, dan tadarus Al quran sendiri setiap malamnya. Benar-benar moment Ramadhan yang berbeda, yang aku alami di sini. Begitu pula untuk bangun saur, selain itu jam sholat fardhu tidak pernah kita dengar suara adzan dari masjid, namun kita sudah punya jadwal imsakiyah bulan Ramadhan sebagai patokan itu semua.

Sore ini saya berencana untuk mengelilingi desa Setulang, karena mes Dwi Indar terpisah dengan kampung jadi kita harus berjalan menuruni bukit untuk sampai di gapura selamat datang desa Setulang. Memang bentuk-bentuk ukiran seni suku Dayak Kenyah sangat bagus di tempat ini, karena pada saat ini desa Setulang baru dikembangkan sebagai desa wisata. Lebih mencengangkan lagi setelah tau kalau pengembangan desa menjadi desa wisata ini dulu studi bandingnya mencontoh desa di Kecamatan Imogiri Yogyakarta, hehe. Perlu diketahui bahwa kecamatan Imogiri Yogyakarta adalah tempat yang dekat dengan tanah kelahiran saya, yaitu kecamatan Pundong Yogyakarta.
ukiran kayu Dayak Kenyah gapura desa wisata Setulang
Selama perjalanan kita sering berjumpa dengan ibu-ibu yang pulang dari ladang, mereka semua berjalan kaki dengan memanggul hasil panen berladangnya berupa buah dan sayuran. Jalan-jalan kali ini kita ditemani Ila & Meida mereka berdua adalah gadis Dayak Kenyah yang sangat menyenangkan, lumayan juga ada yang bantu kita mengambil foto dan bercanda selama perjalanan.
Anike *gadis penari adat desa Setulang Malinau
Selain itu kita juga berjumpa dengan *bunga desa Setulang yaitu Anike, dia adalah gadis Dayak Kenyah yang pintar menari hingga ke berbagai propinsi di Indonesia. Anike ini juga sering tampil di berbagai majalah lokal di kabupaten Malinau. Berharap semoga kelak dia akan mendapatkan beasiswa untuk mendapatkan jenjang sekolah yang lebih tinggi atas bakat-bakat dan presatasinya itu.

Setelah melewati perkampungan, Ila menuju ke suatu rumah dan memfoto nenek yang memiliki telinga panjang dan bertato (suku asli Dayak Kenyah), kemudian aku bilang ke Ila untuk minta izin dengan nenek itu untuk berfoto bersama, lantas dia berbicara bahasa daerah. Alhamdulillah dengan bantuan Ila, kita bisa berfoto dengan nenek Usun. Nenek Usun ini adalah salah satu orang Dayak Kenyah yang memiliki telinga panjang dan bertato di kedua tangannya, dimana tradisi ini sudah banyak ditinggalkan oleh gadis-gadis suku Dayak Kenyah. Sehingga hanya tinggal beberapa nenek tua saja yang memiliki telinga panjang dan tangan bertato ini. Jadi merupakan moment yang luar biasa bisa berfoto dengan nenek Usun ini.
Nenek Usun, wanita Suku Dayak Kenyah desa Setulang
Kemudian kita menuju Balai Adat desa Setulang, dari jauh balai ini terlihat sangat menawan dengan ukiran batik khas dayaknya. Ditambah akumulasi warna lapangan sepak bola dengan rumput hijaunya yang bagus nan menawan. Kebetulan waktu itu lapangan belum terlalu banyak yang main bola, jadi bisa mengabadikan foto di tempat itu.
*Uma biasa disebut rumah panjang atau rumah adat suku Dayak Kenyah
Setelah itu kita lanjut menuju balai adat desa Setulang, tampak dari depan balai adat ini sangat bagus dengan gapura kayu didepannya. Pintunya juga terdapat lukisan orang laki-laki dan perempuan. Pokoknya di setiap sisi balai adat ini penuh dengan lukisan-lukisan khas Dayak. Jadi jika foto dari berbagai sisi yang tampak adalah ornament khas Dayak semua, yang tentunya sangat bagus untuk didokumentasikan.
rumah adat desa Setulang tampak dari depan
Ila adalah gadis berusia 12 tahun, dia akan masuk SMP tahun ajaran ini, sedangkan Meida adalah gadis Dayak yang baru mau naik kelas 6 SD. Mereka semua sangat menyenangkan selama mengantar dan menemani kami jalan-jalan mengelilingi desa Setulang ini. Kita foto bersama secara bergantian, dan bercanda selama perjalanan.

Jam sudah menunjukkan pukul 17.10, cahaya sore sudah tidak mendukung kita untuk mengambil gambar, efek pencahayaan foto agak kurang bagus hasilnya, untuk itu kita memutuskan untuk kembali pulang menuju mes. Kita mengambil jalan berbeda dari jalan berangkat tadi, kita memilih jalan pintas agar cepat sampai ke mes. Setelah melewati gereja kita menjumpai rumah-rumah panggung kecil, kemudian itu merupakan lumbung padi milik suku Dayak Kenyah. Ada beberapa lumbung padi ini, lumayan banyak juga dan semua tertata bersih walaupun penataannya agak kurang rapi. Pada saat melewati lumbung padi ini, terlintas ingatanku di saat perjalananku mengunjungi suku Baduy Dalam di Banten beberapa tahun yang lalu, dimana bentuk lumbung padi ini hampir mirip.
Lumbung hasil ladang suku Dayak Kenyah desa Setulang
Setelah kembali ke mes sudah jam 17.30 padahal kita belum masak sayur untuk berbuka, kemudian kita segera berbegas untuk memasak menyiapkan buka untuk sore itu. Menu kita waktu itu adalah sayur lodeh, telur goreng, tahu goreng dan pop ice cokelat, Ila & Meida ikut menemani kami berbuka sore itu. Benar-benar moment berbuka yang luar biasa setelah hunting foto bersama mereka.

5 komentar:

  1. Halo, salam kenal :-)
    Senang akhirnya menemukan blog yg bercerita ttg desa Setulang ini.
    Insya Allah saya punya rencana utk solo traveling ke Malinau dlm waktu dekat ini, termsk mengunjungi desa ini.
    Ada bbrp pertanyaan nih, smoga bisa terjawab :-)
    1. Transportasi/taksi ke Setulang dan sebaliknya (Malinau) apakah tersedia setiap hari?
    Ada alternatif lain selain jalur darat ngga ya?
    2. Apakah di Setulang terdpt penginapan atau homestay? Ingin rasanya bisa bermalam di sana soalnya :-)
    Makasih banyak.
    Salam,
    Lena

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi, saya kebetulan stay di Malinau. Jika ingin mengunjungi Malinau saya bersedia menjadi guide tour anda. Silahkan hub saya via email.

      Hapus
    2. 1. Transportasi dari Malinau ke Setulang bisa menggunakan mobil pick up, orang disana menyebutnya sebagai taksi, untuk ke Setulang sudah bisa menggunakan transportasi darat.
      2. di Setulang ada tempat warga yang bisa digunakan untuk menginap.

      Maaf sudah lama tidak membuka blog, telat membalasnya.
      Terimakasih sudah mengunjungi blog ini mb Lena.

      Hapus
  2. Halo, sekedar informasi. Untuk kendaraan ke desa setulang tersedia setiap hark dan tidak hanya satu mobil yang menyediakan layanan transportasi. Tersedia sekitar 3-4 mobil. Biasanya mereka menunggu di depan pertokoan di malinau kota dan berangkat ke desa setulang sekitar jam 1-3 sore. Lebih mudah lag jika punya kontak untuk ke sana agar bisa di jemput.
    Until masalah penginapan, ada banyak rumah warga yang bisa di tumpangi untuk bermalam.
    Kebetulan saya orang asli desa setulang. Selamat berkunjung dan di tunggu kunjungannya di desa setulang. Salam..

    BalasHapus
  3. Setelah mengabdi di Desa Sesua Malinau Barat, Oktober kemungkinan saya akan mengabdi di Desa Setulang, Malinau Selatan Hilir..
    Semoga sesuai harapan..

    BalasHapus