Sabtu, 25 Mei 2013

Pendakian Gunung Sindoro (3150 m.dpal)

Hari Jumat-Sabtu, 24-25 Mei 2013 aku dan teman-teman Palaga, dari jauh-jauh hari sudah merencanakan untuk mendaki gunung Sindoro. Karena sebelumnya kita sudah mendaki gunung Sumbing, jadi planning selanjutnya kita akan mendaki gunung sindoro. Rencana pendakian awalnya kita berkeinginan hanya 11 an orang saja, biar ideal dalam pendakian. Sebelumnya kita juga ngadain TM namun yang datang pada saat TM hanya aku, Baskoro, Anes, Papa Jo, Ryan, dan Mega, ternyata pas hari H yang jadi ikut pendakian sekitar 17an orang. Peserta Palaga waktu itu adalah Amin Fitriyah, Anes, Ana, Mega, Rina, Papa Jo, Baskoro, Ryan, Hadik, Tarom, Qomar, Deni, Yudha, Baizil, Sarwan, John, satu lagi Andi anak Riau juga. Sepertinya anggota Palaga akan semakin bertambah banyak, karena untuk menjadi anggota Palaga yaitu harus pernah mendaki bersama senior-senior Palaga, hehe.
we are PALAGA
Habis Jumatan kita kumpul di kos Mega, biasa pada molor termasuk aku, maklum karena harus ngajar di SMP sampai pukul 11.30. dikarenakan kumpulnya tidak menjadi satu tempat jadi kita harus saling menunggu dan menjemput teman-teman yang sedang menunggu di suatu tempat. Sekitar pukul 14.00 kita baru berangkat dari Jogja. Bismillah, perjalanan sekitar 4 jam kita lalui Jogja-Magelang-Temanggung-Kledung dan sampai di basecamp Sindoro sekitar pukul 18.00. Sesampainya kita di basecamp, aku bertanya-tanya kok basecamp gunung Sindoro ini berada di samping jalan raya Temanggung-Wonosobo, masyaalloh sepertinya memang perjalanan pendakian ke Puncak Gunung akan jauh sekali.


Aku lihat di tempat parkir sepertinya sudah ada beberapa pendaki yang sudah naik waktu itu, aku segera menyarankan patungan @10.000 rupiah untuk membeli nasi bungkus sejumlah 17 buah, ada yang sholat magrib kemudian sholat Isya’ dan habis itu kita packing ulang. Sekitar pukul 19.00 kita start mendaki. Pendakian waktu itu Palaga semakin lengkap karena membawa 2 personil professional yakni Pak Dokter (Yudha Fauzan) dan Pak Ustadz (Qomarrudin). Jadi ketika dimulai dengan berdoa bersama kita langsung dipimpin oleh Pak Ustadz Qomarrudin.
istirahat di ladang lama
Perjalanan dari Basecamp sampai Pos 1 kita harus melewati Ladang Lama sekitar 1,5 jam wauww lama sekali ya, karena jalan masih agak datar dan waktu itu langit malam hari sangat cerah dan diterangi oleh sinar rembulan pula,sehingga waktu itu jadi moment yang benar-benar indah dan romantis bagi pasangan pendaki,hehe. Kita jalan santai dengan diselingi beberapa break dan akhirnya terbukti sampai di pos 1 waktu telah menunjukkan pukul 20.30.

Kemudian kita melanjutkan perjalanan dari Pos 1 menuju Pos 2 diperkirakan waktu yang ditempuh sekitar 1 jam, didalam rute menuju pos 2 ini akan melewati rute jalan menurun, yang akibatnya nanti kita harus melewati jalan naik kembali, *hadaw sepanjang sisi perjalanan sudah merupakan vegetasi pohon cemara dan rumput semak belukar. Kalau di buku petunjuk perkiraan pendakian sekitar 1 jam, namun kita anggota tim Palaga melakukan pendakian sekitar 1,5 jam. Alhamdulillah sampai di Pos 2 pada pukul 22.00.

Setelah break sebentar di Pos 2 kemudian kita lanjutkan untuk menuju Pos 3, rute jalur pendakian untuk menuju Pos 3 sudah merupakan jalur track menanjak, dan sudah ada sedikit batuan kecil-kecil di setiap jalan setapak. Lama perjalanan yang kita tempuh sekitar 3 jam perjalanan karena kita *Love slow very much, haha MLML (mlaku leren-mlaku leren sambil bercanda dan istirahat sebentar). Hampir sampai di Pos 3 kita disuguhkan pemandangan kerlip lampu penduduk yang berada di bawah sana, benar-benar pemandangan lampu yang indah, kalau begini nih selain ingat Alloh, juga ingat sang penemu bola lampu *simbah kita Thomas Alfa Edison yang telah berjasa membuat bola lampu yang bermanfaat bagi manusia hingga akhir zaman nanti, hehe. Alhamdulillah sampai di Pos 3 sekitar pukul 13.00. Di Pos 3 ini sudah berdiri 4-5 dome para pendaki yang sudah sampai duluan, karena terbatasnya tempat kita mencari-cari tempat yang muat untuk 2 dome lagi.

Seperti biasa yang laki-laki mendirikan dome, dan yang perempuan masak membuat kopi dan mie. Dinginnya *berrrrr, serasa menusuk-nusuk di tulang, akhirnya dome pun jadi, segera tidur melepas capek dan lelah, serta berharap esok pagi dapat disambut oleh sinar mentari pagi yang indah. Good Night, and have a nice sleep Palaga ^ ^.
sinar mentari pagi yg indah
Bangun pagi sekitar pukul 5.30 dan benar, kita disambut oleh indahnya sinar pagi yang memantulkan cahaya kuning orange, subhanalloh indahnya. Selain itu di Pos 3 ini kita disuguhi background pemandangan gunung Sumbing, dan dua gunung-gunung kecil lainnya, yakni Merbabu dan Merapi. Terimakasih ya Rabb, Engkau berikan kesempatan padaku untuk melihat hasil ciptaan-Mu yang sangat indah, dan aku hanyalah seorang manusia kecil yang teramat kecil dihadapan-Mu yang tiada artinya sama sekali. *Ketika mendaki gunung, aku selalu berpikir ternyata manusia itu amat kecil, dan Tuhan Sang Penciptalah yang Maha Besar.
pagi hari dengan background gunung Sumbing
Masak pagi membuat mie rebus, jahe panas, dan kopi sedangkan yang cowok prepare untuk mempacking dome kembali, karena di buku petunjuk kita tidak boleh meninggalkan barang-barang di Pos 3 termasuk Dome, jadi perjalanan dari Pos 3 menuju Pos 4 kita harus membawa beban carrier masing-masing. Baru kali ini pendakian bagiku untuk membawa tas carrier hingga puncak nanti.
perjalanan menuju puncak harus dengan beban carrier
Perjalanan dari Pos 3 sekitar pukul 07.00 kita mulai jalan beriringan, rute jalan yang kita lewati sudah merupakan rute menanjak, disebut sebagai rute Batu Tatah. Dimana rute Batu Tatah ini merupakan rute terbuka yang terdiri dari batu-batu besar dan cukup melelahkan, apalagi yang perempuan harus membawa carrier masing-masing. Pendakian yang benar-benar panjang dan melelahkan, kita sampai di Pos 4 dengan lama pendakian sekitar 2,5 jam, sehingga sampai di Pos 4 sekitar pukul 9.30.
istirahat sebentar
 Siang itu masih cerah sehingga pemandangan semak rumput ilalang terhampar hijau, dan langit terlihat biru cerah. Aku memilih untuk jalan agak depan bareng dengan tim Riau Squad, mereka benar-benar merupakan cowok-cowok kuat, dan sudah beberapa kali aku mendaki bersama mereka. Waktu itu kurang tau pendakian terasa semakin capek dan ngantuk, aku pun jalan dikit demi sedikit, slow namun tetap jalan terus. Setiap ketemu dengan para pendaki lain selalu diberi semangat, *puncaknya tinggal sebentar lagi mbak*, hehe.
bareng tim Riau Squad
Hati dan jiwaku pun membisikiku untuk bisa sampai puncak, *Bismillah amin pasti bisa, akhirnya tumbuhan edelweis yang belum kembang itu sudah memperlihatkan padaku, itu artinya sudah sampai di Padang Edelweis. Ada yang mengatakan Padang Edelweis di Sindoro ini merupakan kawasan padang Edelweis terluas di semua gunung, tapi aku pikir kok kayaknya tidak ya, hehe. Masalahnya edelweisnya belum kembang jadi terlihat Cuma sedikit. Lama perjalanan dari Pos 4 hingga Padang Edelweis sekitar 1,5 jam sampai sekitar pukul 11.00
hampir menuju padang Edelweis
Melewati kerumunan pendaki yang sudah pada mulai turun dan sedang break di bawah pohon, berteriak menyemangati *semangat mbak 30 menit lagi sampai puncak deh. Sepertinya untuk menjawab semangat mereka serasa aku tak kuasa, tapi aku paksa untuk bisa tersenyum pada mereka. Jiwa dan keinginan untuk sampai puncak masih ada tetapi kaki dan fisik sudah terasa capek luar biasa, akhirnya aku slow untuk jalan terus dan Alhamdulillah terdengan orang berteriak *sampai puncak-sampai puncak.
menikmati padang ilalang dulu
Secara geografis puncak gunung Sindoro terlihat begitu lebar, kawahnya masih mengepulkan asap belerang, dan benar bahwa gunung Sindoro ini bukannya masih aktif namun merupakan gunung yang sedang istirahat. Aku melihat jam tangan menunjukkan pukul 11.45 sampai di Puncak Gunung Sindoro. 
at Puncak Gunung Sindoro
Di Puncak ini para pendaki dapat menikmati dengan memutar kearah kiri mengitari kawah dan akan mendapati alun-alun puncak Sindoro di sebelah kawah mati dan katanya akan tembus ke tempat semula, waktu untuk memutari kawah Sindoro ini ditempuh selama kurang lebih 1 jam, namun aku dan teman-teman Palaga memutuskan untuk tidak mengitari kawah. Kemudian kita berfoto bersama, dengan membuat tulisan Palaga.
alhamdulillah bisa sampai puncak Sindoro

Setelah sudah puas melihat keindahan puncak Sindoro dan mendokumentasikannya, tepat pukul 12.20 kabut mulai menebal, sepertinya ini adalah tanda-tanda hujan akan datang, dan benar sekali akhirnya hujan deras mengguyur kami di puncak, kita langsung memakai mantel dan siap menenteng carrier masing-masing untuk turun.
we love U PALAGA
Benar-benar proses penurunan gunung yang melelahkan, yaahh inilah yang disebut dengan pendakian, setelah capek-capek jalan sampai puncak, kita harus capek-capek juga untuk turun kembali. Filosofi naik gunung dari bawah-puncak-turun ke basecamp aku selami seperti proses hidup kita di dunia ini, ada lahir-proses hidup-kesuksesan-kembali ke yang Kuasa/mati. Begitulah, harus mengingat tujuan kita dilahirkan di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Alloh.
bersiap untuk turun kembali
Perjalanan dari Puncak-Pos4-Pos3-Pos2-Pos1 harus kita lalui, kita sempat masak di Pos 4 karena lapar dan makan mie instant bersama-sama. Kemudian kita lanjutkan perjalanan. Aku turun bertiga bersama Baskoro dan Papa Jo, perjalanan penurunan gunung terasa lama dan melelahkan karena sambil diguyur hujan selama 5 jam perjalanan. Sampailah kita bertiga disusul Tarom di Pos 1 sekitar pukul 18.00. Baju basah, carrier basah, dan fisik lelah. Aku pikir dari Pos 1 menuju basecamp aku sudah tidak kuasa jika harus berjalan kemudian aku memutuskan untuk naik ojek @10.000 rupiah dan Alhamdulillah sampai di basecamp Sindoro dengan selamat terimakasih ya Rabb.
keindahan itu adalah ketika mendaki gunung
Inilah cerita pendakianku di gunung Sindoro, semoga aku diberi kesempatan oleh Alloh untuk mendaki gunung-gunung lainnya di Indonesia maupun di luar negeri sana.
Author by Amin Fitriyah ^ ^
Salam Rimba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar