Sabtu, 22 Juni 2013

Pendakian Gunung Semeru 3.676 m.dpal (Puncak Para Dewa Mahameru)


“Puncak Mahameru bukanlah sumber kekuatan, kekuatan itu berada di hati, jiwa dan pikiran masing-masing, yang tiap-tiap orang miliki dan tidak ada batasnya~mengutip dari Mr.Portable”
we are seven warriors
Senin 17-6-13 jam 15.00 kumpul di basecamp Uboed *klebengan, temen-temen pendakianku kali ini ada 7 orang yakni Uboed, Ms Momo, Mb Marita, Ms Nanda, Rifqy, Hengky dan aku Amin Fitriyah, Baru kali ini aku akan mendaki tanpa temen-temen Palaga. Jam 20.00 berangkat dari Janti ke Terminal Surabaya jam 05.45 setelah sholat shubuh jam 06.15 kita melanjutkan ke Terminal Arjosari sampai jam 09.00 setelah itu melanjutkan ke Pasar Tumpang menggunakan bison putih, dan sampai di Pasar Tumpang jam 10.00 di pasar ini kita beli logistik yang sangat lengkap dari sayuran, tempe, buah melon, ikan asin, bumbu instant dan lainnya. Di lokasi pasar ini kita sekalian sarapan “Pecel Mak Mad” yang terkenal dengan warung tenda biru Mahameru, tentunya pecel ini sangat spesial dan murah. Jam 10.30 kita segera menuju basecamp Ranu Pani pake jip putih adventure, ternyata lama perjalanan sekitar 2,5 jam karena medan jalan naik turun dan jalan yang penuh tantangan alias *gronjal-gronjal, hehe.
tiba di basecamp Ranu Pani
Selasa, 18-6-13 Alhamdulilah sampai di Basecamp Ranu Pani sekitar jam 12.30 di basecamp ini kita disuguhi danau Pani yang segar, suhu di basecamp Ranu Pani ini lebih sejuk dari yang dibayangkan. Sampai di basecamp kita segera mengurus perijinan pendakian yang sudah dikoordinir oleh Uboed, untuk pendaftaran perijinan ini masing-masing pendaki harus menyiapkan foto copy ktp dan surat kesehatan masing-masing 2 buah. Ternyata untuk perijinan masing-masing dikenai per@ Rp10.000, tenda per@ Rp20.000, Kamera digital/Handycamp/HP yang berkamera per@ dikenai tambahan biaya Rp5.000 sepertinya biaya tersebut memang balance dengan keindahan alam yang akan disuguhkan oleh Balai Taman Nasional Semeru.

Jam 12.45 kita sholat dzuhur sekalian menjamak sholat asar, setelah itu kita segera packing ulang dan segera berangkat untuk memulai pendakian jam 13.00. Perjalanan dari basecamp Ranu Pane menuju Ranu kumbolo sekitar 5 jam pendakian. Harus melewati 4 pos pendakian, untuk perjalanan pendakian kali ini kita di-leader-i oleh Uboed sehingga selama prosesi pendakian kita harus ikut semua aturan yang telah disepakakti. Formasi pendakian waktu itu kita jalan beriringan ber-tujuh orang, pertama Uboed, aku, ms Momo, mb Marita, Rifqy, ms Nanda dan yang terakhir adalah Hengky. Aku berpikir kenapa aku ditaruh di formasi kedua setelah Boedi, itu karena aku pikir dari ke tujuh pendaki itu fisikku yang paling lemah sehingga harapannya aku bisa mengikuti jejak langkah sang leader Uboed.

Seperti biasa nafas pertama untuk mendaki terasa lebih berat, ya ini memang karena kita baru start on, jalan naik turun masih disuguhi dengan ladang penduduk, itu artinya kita baru benar-benar jalan sedikit. Pendakianku kali ini benar-benar keren karena apa, karena aku mendaki tanpa teman-teman Palaga. Itu artinya fisikku harus tetap terjaga dan fit. Aku akui Uboed memang leader yang udah professional, setiap kita sudah terlihat capek, terutama aku yang paling terlihat kita diberi waktu istirahat selama 15-20 detik (menurutku ini adalah waktu istirahat yang benar-benar sebentar) hanya bisa untuk mengatur nafas saja. Namun aku sudah mempercayainya, dan kita harus mengikuti aturan yang ada. Setiap melalui jalur medan tanjakan naik, rasanya capek banget namun dengan istirahat per 15-20 detik itu kita saling menyemangati dan sampailah kita di Pos 1.

Saat itu kabut pun turun dan semakin tebal nyaris pandangan siang hari itu terganggu oleh turunnya kabut, dan sampailah di Pos 1 pas turun hujan. Alhasil kita memutuskan untuk menggunakan rain coat, baru kali ini pas pendakian berangkat sudah kehujanan, karena pendakian-pendakianku sebelumnya selalu sehabis dari puncak kehujanan, tapi tidak apa-apa, hujan adalah salah satu bentuk dari rahmat dan berkah-Nya. Kita berjalan beriringan sambil diguyur hujan yang lumayan deras, jalan setapak pendakian pun menjadi aliran air, sepatu basah hingga kaos kaki. Pos 2 dan Pos 3 sudah kita lewati tentunya dengan selingan-selingan istirahat beberapa kali. Beban berat carrier sudah menjadi tanggungjawab masing-masing, semuanya capek dan kita sudah hampir 4,5 jam perjalanan dan itu artinya kita akan segera sampai di Ranu Kumbolo.
hampir sampai di Ranu Kumbolo

Tidak terasa tubuh danau Kumbolo sudah terlihat begitu indahnya, hampir pukul 16.45 kita kita sudah di bibir bukit Ranu Kumbolo, Alhamdulillah danau ini benar-benar sangat indah. Rasanya adem di hati melihat ciptaan Alloh yang begitu indahnya, Uboed bilang kalau yang kumpulan tenda-tenda dome yang terlihat nantinya kita juga akan ngecamp
di tempat tersebut. Di pos 4 sebelum Ranu Kumbolo ini kita sempat istirahat 1 menit karena sambil foto-foto (hehe untungnya istirahatnya enggak 15 detik).

Melanjutkan perjalanan dengan formasi barisan yang masih sama, kita disuguhkan padang ilalang yang diapit oleh bukit-bukit indah dan Ranu Kumbolo yang besar, dalam hati hanya bisa berucap *subhanalloh, indahnya. Alhamdulillah jam 17.00 kita sampai di Ranu Kumbolo dalam keadaan sehat dan langsung bersiap mendirikan dome, sholat, dan masak. Malam itu kita akan menghabiskan malam di tenda dome di Ranu Kumbolo yang dingin beku, semakin malam semakin terdengar beberapa pendaki yang baru datang. Peralatan masak yang dibawa Uboed sangat lengkap dari kompor gas, trangia, dan aku bawa kompor klasik paraffin, hehe. Menu malam itu kita menanak nasi, menggoreng tempe & ikan asin, dan membuat sup. Setelah makan, jam 21.30 kita segera istirahat tidur.
ngecamp di Ranu Kumbolo
Rabu, 19-6-13 kita bangun dengan kondisi yang segar bugar, rasa capek pendakian kemaren hilang begitu saja. Jam 05.00 kita segera mengambil air wudlu langsung di Ranu Kumbolo dan sholat subuh berjamaah di dome, semburat fajar Ranu Kumbolo sudah terlihat jingga kemerah-merahan. Sehabis sholat subuh kita segera hunting foto sunrise Ranu Kumbolo yang cantik memesona, desir hatiku yang beku pada pagi itu hanya bisa bersyukur menikmati keindahan yang ada, *terimakasih ya Rabb.
sinar fajar di Ranu Kumbolo
sunrise di Ranu Kumbolo
Uboed mungkin sudah biasa dengan pemandangan Ranu Kumbolo pagi itu, karena bagi dia pendakian Semeru kali ini merupakan pendakian ke-9 kalinya, jadi dia sudah siap dengan peralatan masaknya. Menu pagi itu kita menanak nasi, menggoreng telur campur mie, dan oseng-oseng buncis tempe. Benar-benar menu makanan yang spesial, kita selalu makan bersama-sama. Susu jahe anget coklat dan kopi menjadi pilihan minuman yang nikmat dan bisa menghangatkan badan. Jam 8.00 kita harus start untuk melanjutkan perjalanan pendakian, jadi setelah makan kita segera packing perlengkapan dan menurunkan dome.
berderet-deret dome para pendaki di Ranu Kumbolo
Kurang lebih jam 8.30 kita segera melanjutkan pendakian, tentunya sebelum berangkat kita berdoa bersama terlebih dulu. *Bismillahh, kita jalan beriringan dengan formasi barisan yang masih sama aku di nomor dua setelah Uboed, nah ini kita akan melewati *tanjakan cinta dan harus memulai dengan start nafas pertama. Begitu berat memang, menopang beban carrier yang semuanya berat bahkan carrier yang cowok lebih berat, dan aku tak kuasa untuk tidak menoleh ke belakang, hehe. Tidak masalah yang penting sedikit demi sedikit akhirnya Tanjakan cinta bisa dilalui juga dengan nafas ngos-ngosan. Percaya aku, kalau Uboed tanpa menoleh dan tanpa berhenti *dia memang super keren gila, hehe. Alhamdulillah setelah tanjakan cinta dilewati kita akan disuguhi tempat yang luas berisi padang ilalang dan padang lavendernya yakni “Oro-Oro Ombo”.
berhasil melewati *tanjakan cinta dengan menoleh ke belakang, hehe
Alhamdulillah, sampai di Oro-Oro Ombo yang benar-benar luas seperti namanya, tempat ini sangat indah salah satunya karena hamparan warna ungu yakni bunga lavender yang sangat indah. Beruntung sekali saat itu bunga lavender baru mekar-mekarnya sehingga pemandangan waktu itu hamparan permadani ungu terlihat sangat *wonderful. Di Oro-Oro Ombo ini kita agak lumayan lama karena moment untuk mendokumentasikan foto menjadi hal yang wajib dilakukan di tempat indah ini.
melewati Oro-Oro Ombo yang benar-benar luas seperti namanya
terjebak di Padang Lavender yang *mekar ungu menakjubkan
Di padang bunga Lavender ini sangat bagus untuk foto prewedding, jadi disarankan yang mau nikah boleh kok ke tempat ini untuk hunting foto prewedd, hehe. Pendakian gunung Semeru kali ini benar-benar merupakan pendakian yang *super keren, waktu itu kita berbarengan dengan para pendaki dari Jember, tentunya mereka sangat friendly dan menyenangkan. Kita jadi tambah teman yang sangat menyenangkan.
terjebak di hamparan bunga Lavender yang ungu
Setelah melewati padang Oro-Oro Ombo yang sangat luas dan memukau kita segera akan sampai di Cemoro Kandang, jajaran pohon cemara sudah berbaris seperti ingin menyampaikan ucapan selamat datang bagi kita. Terik matahari siang itu benar-benar menguras energi perjalanan pendakian, butuh istirahat di setiap detik perjalanannya. Apalagi trek medan yang kita lewatin menanjak naik, sehingga fisikku yang paling lemah hanya bisa dikuatkan oleh semangat jiwa dari dalam diri masing-masing. Ms Momo yang dibelakangku yang sering memotivasiku dan mendorongku dari belakang. Setiap terasa sudah tidak kuat, aku yang pertama minta break ke Uboed. 
hampir sampai di Kalimati
Sekitar 3,5 jam perjalanan melewati hutan cemara, sepertinya medan jalan naik sudah tidak ada karena banyak sekali turunan-turunan, kata Uboed itu artinya kita akan segera sampai di Kalimati, Alhamdulillah. Aku sudah tidak menghiraukan terik panas matahari siang itu, dan benar puncak pasir gunung Semeru terlihat berdiri angkuh di depan kita, dan saatnya sambil istirahat kita foto-foto dengan background gunung Semeru yang tinggi besar menjulang.
sampai di Kalimati 3200 m.dpal
Setelah rehat sebentar kita melanjutkan perjalanan dan alhamdulillah sampai di Kalimati Pukul 12.15, bayanganku di awal aku kira Kalimati itu sudah batas vegetasi dengan pasir, ternyata Kalimati itu juga merupakan tempat yang luas dan masih terdapat padang ilalang dan edelweiss. Terdapat beberapa pendaki yang ngecamp di Kalimati, tapi kata Uboed kita hanya masak, istirahat, sholat dan makan. Kalimati adalah tempat terakhir terdapat mata air yang disebut “Sumbermanik” sehingga kita mengambil beberapa botol 1,5 liter air dan 1 drigen air untuk dibawa naik hingga persediaan buat summit ke puncak. Sepertinya ini agak berat, karena kita harus membagi persediaan air, buat masak, buat bekal pendakian, buat ke puncak.
rehat di Kalimati
Aku dan mb Marita tayamum lalu kita segera sholat dzuhur dijamak dengan sholat ashar, sehabis itu kita bantuin Uboed masak, dan menu siang itu adalah menanak nasi, menggoreng teri, dan buat pecel. Benar-benar menu pendakian yang sangat spesial, karena aku percaya pendakian ke gunung Semeru ini bukan merupakan pendakian yang biasa, karena kita membutuhkan 3 hari pendakian dan kita harus disuply dengan makanan yang sehat, hampir di pendakian Semeru kali ini kita tidak merebus mie instant. Uboed benar-benar keren, kita bawa logistik sayuran dan lauk yang lengkap.
santai dulu di Kalimati
Oh ya Uboed juga bawa jaring biru yang dikaitkan ke dua pohon jadi kita bisa duduk atau sandaran di bandulan ini, lengkap bener perlengkapan dia. Setelah kita makan bersama lalu kita segera packing untuk melanjutkan perjalanan pendakian ke Arcopodo. Teman-teman dari Jember memilih ngecamp di Kalimati, namun Uboed sang leader sudah memilih untuk ngecamp di Arcopodo, dan kita percaya kenapa dia sudah memutuskan untuk ngecamp disana. Mungkin alasan itu akan terjawab nanti, setelah kita berdoa bersama jam 13.00 kita segera melanjutkan perjalanan pendakian.
melanjutkan perjalanan ke Arcopodo
Melewati padang ilalang dan padang edelweiss di Kalimati, sembari bertegur sapa dengan beberapa pendaki yang memilih untuk ngecamp di tempat ini. Jalan pendakian masih landai karena Kalimati ini merupakan padang yang luas, kemudian kita melewati turunan yang artinya tanjakan naik segera menanti kita di atas sana. Kita sudah disambut dengan hutan cemara dan vegetasi lainnya, jalan naik dan menanjak sudah tidak terelakkan lagi. Pada jalur ini kita disarankan untuk ekstra hati-hati karena dipinggir jalur ada jurang yang dalam. Benar-benar pendakian yang keren, selain itu karena persediaan air yang terbatas kita harus hemat minum. Nah satu lagi nih, yang mau bawain air minum 1 drigen adalah ms momo, dia rela carriernya digantungin drigen air. Padahal untuk naik pada setiap tanjakan pada jalur ini sudah beraat banget, sepertinya dia terlihat agak keberatan dengan beban karena kita tau air yang paling berat. Kita jalan sedikit demi sedikit, break atur nafas dan lanjut mendaki kembali.

Biasanya di setiap tanjakan aku didorong ms momo dari belakang, namun untuk jalur ini tidak karena beban carrier dan air yang dia bawa sudah membuat fisiknya lelah. Kita sudah melewati hutan sekitar 3 jam, dan Alhamdulillah ada petunjuk tulisan warna kuning terlihat, dan itu artinya kita sudah sampai di Arcopodo sekitar jam 16.30. Kita istirahat sebentar, lalu yang cowok segera mengeluarkan perangkat dome dan mendirikannya.
alhamdulillah sampai di Arcopodo
Hampir selesai mendirikan dome tiba-tiba ada 2 bule Perancis Louis & Maggs, lalu kita mengobrol bareng dengan mereka. Ternyata mereka mulai start pendakian dari Ranu Pani baru tadi pagi jam 7.00 dan jam 17.00 mereka berdua sudah sampai di Arcopodo, itu benar-benar gila karena mereka mendaki hanya dalam waktu sehari *wonderfull. Setelah berbincang-bincang lama lalu kita berfoto bersama.
bule Perancis Louis & Magg's yang crazy haha
Semua barang sudah kita tata dan dimasukkan ke dalam dome, lalu kita segera membuat minuman dan masak. Tiba-tiba gerimis datang dan Alhamdulillah kita sudah berada di dalam dome. Sambil menikmati susu jahe coklat hangat di bekunya Arcopodo, malam itu kita menanak nasi, membuat sarden, dan membuat sup mie. Kita makan dan menjamak sholat di dome. Setelah makan kita segera istirahat karena jam 00.30 kita harus melanjutkan pendakian untuk menuju Puncak Mahameru. Tapi sebelum tidur aku dan mb Marita buat agar-agar Nutrie Gel buat bekal summit pendakian besok.

Waktu itu di Arcopodo hanya ada 2 dome, namun di atas tempat kami ngecamp ada sekelompok pendaki dan 2 bule Perancis yang memilih untuk ngecamp di atas. Kita bangun jam 00.00 dan kita mendengar bahwa dome sebelah sudah memulai pendakian duluan. Kita bertujuh prepare dan melihat persediaan air yang terbatas kita membagi untuk persediaan summit dan untuk masak setelah balik dari puncak. Untuk ke puncak kita hanya bawa tas daypack, minum 1,5 liter namun gak penuh dibawa Rifqy, 500 ml dibawa aku, dan 500 ml dibawa Uboed. Manajemen perjalanan pada summit pendakian ini benar-benar harus ngikutin aturan yang sudah dijelaskan oleh Uboed. Formasi pendakian tidak boleh berubah, dan harus jaga jarak. Jam 00.30 pagi itu di Arcopodo benar-benar dingin beku dan menusuk-nusuk kita segera berdoa bersama untuk memulai pendakian.

Kamis, 20-6-13 nafas pertama untuk pendakian summit dimulai, harus lebih ekstra hati-hati karena dari Arcopodo ke jalur atas disepanjang sisi jalur terdapat jurang. Namun pada waktu itu kita diterangi dengan cahaya bulan dan ribuan bintang yang memendarkan sinarnya. Track yang benar-benar capek walaupun kita sudah tidak membawa carrier, batas vegetasi dengan pasir pun sudah terlihat. Terlihat cemoro tunggal yang doyong hampir mati, kata Uboed disitulah letak inmemoriam nya *Soe Hok Gie & Lubis yang oleh pemerintah batu peringatan itu sudah diambil, kurang tau atas dasar apa batu *inmemoriam itu diambil, hehe. I think it’s politic.
perjalanan pendakian summit menuju Puncak Mahameru
Cahaya senterku yang benar-benar kerlip redup berusaha untuk menapaki jejak langkah Uboed, mencari jejak langkah kakinya, karena medan summit sudah batu dan pasir dengan kemiringan kurang lebih 600 bahkan bisa lebih. Untuk itu kita harus benar ekstra hati-hati, jangan sampai menginjak batu bisa-bisa batu yang kita injak tergelincir jatuh kebawah dan mengenai teman di bwah kita. Karena persediaan minum kita terbatas untuk minum kita digilir dan hanya untuk membasahi tenggorokan saja. Sehingga untuk doppling di sepanjang track naik di pasir aku minum madurasa terus, karena aku yang paling tidak tahan haus.

Melewati track batu pasir merupakan medan yang paling berat, selain itu kondisi fisik yang benar-benar sudah lelah dari 3 hari pendakian sebelumnya, sehingga ketika break kita harus hati-hati dan membalikkan badan baru duduk. Setiap break kita makan coklat untuk suply energi sambil melihat indahnya cahaya lampu kota di bawah, selain itu juga melihat kerlip sinar dari milyaran bintang-bintang di langit, makanya tak jarang kita melihat beberapa bintang jatuh *subhanalloh. Jam sudah menunjukkan pukul 3.30 itu artinya kita sudah melewati 3 jam pendakian, namun track batu pasir masih menanjak vertical, sepertinya tidak akan ada bonus hingga sampai di Puncak Mahameru.

Seperti pada manajemen pendakian di jalur-jalur sebelumnya lama kita berhenti hanya berdurasi 1 menit, rada lumayan untuk atur nafas dan menstabilkan denyut nadi. Uboed dan teman-teman pendakianku lainnya tak henti-hentinya untuk saling mensupport, berdoa dan saling menguatkan. Pasti bisa, pasti sampai, pasti kuat, karena masing-masing kekuatan hanya ada pada jiwa masing-masing. Uboed pun bilang bahwa puncak itu bukanlah tujuan kita, Puncak itu adalah bonus dari pendakian, berkali-kali kita diingatkan oleh itu. Akhirnya bendera selamat datang di puncak Mahameru sudah terlihat, dan Uboed kembali bersemangat untuk memotivasiku. Waktu itu jam 4.20 aku benar-benar sudah capek tingkat nadir karena aku semakin terharu tidak kuat melihat bendera merah putih itu.
alhamdulillah sampailah kita di Puncak Mahameru 3.676 m.dpal
momonway di Puncak para Dewa Mahameru 3.676 m.dpal
Langsung tanganku ditarik oleh Uboed hingga sampai di puncak Mahameru *Alhamdulillah ya Rabb kita bertujuh sampai di puncak tertinggi di Pulau Jawa di ketinggian 3676 m.dpal, tidak kuasa aku langsung sujud syukur menyentuh tanah pasir Mahameru kita bertujuh menangis syukur. Kemudian kita membuat lingkaran, saling bergandengan dan menyanyikan lagu syukur. Semakin aku tak kuasa untuk menyanyikannya, hanya tangisan kebahagian aku bisa sampai di puncak Mahameru. Setelah itu kita saling bersalaman satu sama lain, kita benar-benar menjadi keluarga dan sahabat di pendakian itu. Langsung kita sholat subuh berjamaah di Puncak Mahameru diimami oleh ms Momo. *Alhamdulillah kita semua bisa selamat sampai puncak.
we are seven warriors*
Setelah sholat subuh berjamaah di puncak, semburat sinar fajar jingga muncul perlahan dan Alhamdulillah pagi itu sangat cerah sehingga sunrise yang disajikan di Mahameru sangat wonderfull. Kita benar-benar beruntung *subhanalloh.
indahnya sunrise di Puncak Mahameru *awesome
Dua bule perancis sudah sampai duluan dan kita adalah kelompok kedua yang datang pertama di puncak, tetangga dome sebelah pun baru sampai setelah kita, jadi pas di track naik tak sengaja kita bisa menyalip mereka.
ketemu kembali dengan bule Perancis Louis&Maggs di Puncak Mahameru
Keindahan sunrise di puncak para Dewa Mahameru ini sangat memukau, begitu indah dan sulit untuk diintepretasikan dengan kata-kata, ya Rabb keagunganmu sungguh sangat luar biasa, jika bumi ini dan isinya saja begitu indah, bagaimana dengan keindahan-Mu ya Rabb Engkau yang menciptakannya. Jika kita berada di keindahan alam, semakin kita didekatkan pada ketauhidan untuk kembali menyebut nama-Nya *Alhamdulillah.
sunrise yang benar-benar memukau di tempat tertinggi di Pulau Jawa
Jam 5.30 matahari hampir terbit dengan sempurna lalu kita mendengar suara *blungpp ternyata Semeru meletus dan mengepulkan asap sulfatara yang tebal, lalu masing-masing kita berfoto bersama dengan background letusan yang menjadi moment yang keren tentunya. Asap sulfatara ini mengepul naik vertical.
berfoto dengan background asap sulfatara hasil letusan Semeru
Untuk itu di puncak Mahameru ini peraturan batas pendaki hanya sampai pukul 10.00 karena letusan sulfatara semeru jika sudah melebihi pukul 10.00 angin bertiup ke daerah Mahameru sehingga dapat membahayakan keselamatan para pendaki. Sembari kita foto-foto jam 6.15 kita mendengar *blengg lagi langsung semua berlarian untuk berfoto dengan background letusan tersebut, namun letusan kali ini tidak lebih besar dari letusan awal yang tadi.
momonway & asap hasil letusan Semeru
Setelah merasa puas dan tidak akan pernah merasa puas mensyukuri pemandangan di Mahameru jam 7.00 kita foto bersama dan bersiap untuk menuruni puncak Mahameru. *Sedih sebenarnya untuk menyudahi perjumpaan di puncak ini, namun kita harus segera turun. Kita baru ingat kalau nutri Gel yang kita bawa belum kita makan nah sebelum kita turun kita makan masing-masing 2 potong gel *Alhamdulillah.
foto bersama sebelum meninggalkan puncak Mahameru 3.676 m.dpal
Untuk turun selalu lebih mudah, apalagi di track pasir kita seperti meluncur layaknya main *ice skiting. Kita benar-benar meluncur namun harus tetap ekstra hati-hati. Tiba-tiba turunlah kabut tebal dan kita harus jaga jarak agar tetap bisa melihat teman kita. Masih pada track batu pasir dan kita berjumpa dengan pendaki yang mau naik, enggak bayangin kalau di jam ini masih harus naik dan terlihat medan menanjaknya. Rata-rata para pendaki yang memulai pendakian summit dari start Kalimati, rata-rata dari mereka mengurungkan diri untuk tidak sampai di puncak Mahameru. Sekarang aku tau alasannya mengapa Uboed menyarankan untuk ngecamp di Arcopodo, karena jika ngecamp di Kalimati untuk start pendakian summit akan terasa lebih berat. Aku pikir strat summit pendakian dari Arcopodo saja sudah begitu berat, untuk itu para pendaki yang ingin benar-benar sampai di puncak Mahameru disarankan untuk ngecampnya di Arcopodo saja, hehe.
istirahat saat kabut tebal turun #perjalanan pulang
Pada saat kabut tebal kita break sebentar sambil nunggu kabut turun, setelah kabut mulai menyingkap tipis di jalur track pasir ini kita disajikan pemandangan yang indah di bawah yakni  bukit-bukit Semeru dan gunung Bromo nan jauh disana namun terlihat jelas. Kita mendokumentasikan sambil break istirahat.
seketika setelah kabut mulai menyingkap tipis
Jam 8.00 kita sampai di batas vegetasi yaitu di cemoro tunggal tempat inmemoriam Soe Hok Gie nah disini kita harus ekstra hati-hati dan dipasang bendera kecil-kecil berwarna kuning. Karena pada jalur turun inilah kita harus mengikutu sisi kiri karena jika salah akan keliru dan menuju jurang Blank-78, seperti dari cerita-cerita sebelumnya ada beberapa pendaki yang jatuh pada jalur ini, *bismillah harus ekstra hati-hati.

Jam 8.15 alhamdulillah kita sampai di Arcopodo. Sesampainya kita segera minum lalu persiapan untuk masak, kita masak nasi yang dicampur susu cokelat, goreng telur plus mie, dan sop. Sembari Uboed dan ms Momo masak kita packing dome dan perlengkapan masing-masing. Setelah semua siap kita makan bersama lalu jam 10.10 kita bersiap untuk melanjutkan perjalanan turun ke Kalimati. Waktu itu air minum kita sudah benar-benar habis, jadi semakin cepat sampai di Kalimati semakin bagus.

Untuk melewati jalur turun ini aku lebih bersemangat, karena untuk turun yang penting harus bisa rem, siap-siap cari pegangan, fokus dan berdoa. Hutan cemara kita lewati dengan cepat, dan tibalah kita satu persatu di Kalimati sekitar jam 11.30, langsung Uboed nyari simpenan air mineral yang sengaja kita sembunyikan. *Alhamdulillah sekali teguk haus dahaga hilang. Sembari menunggu yang lain, kita duduk-duduk di padang ilalang sambil melihat gundukan pasir gunung Semeru yang terlihat. *Gak menyangka lihat track pasirnya kita telah berhasil melewatinya, *benar-benar gak terbayangkan.

Setelah semua berkumpul, sekitar jam 12.15 kita segera melanjutkan perjalanan dari Kalimati ke Ranu Kumbolo, berapapun energi yang masih tersisa yang penting semangat dalam diri harus tetap menyala. Kita berjalan beriringan melewati jalur yang kadang naik dan kadang harus turun. Karena panas siang hari itu sangat menyengat kadang aku dan mb Marita lebih memilih untuk break istirahat. Sepanjang perjalanan kita salip-salipan dengan beberapa pendaki yang juga turun. Berat carrier masih terasa lama perjalanan sekitar 3 jam, namun di sepanjang perjalanan melewati rute cemoro kandang ini aku, mb Marita, Uboed, dan ms Momo kita disibukkan nyari *murbei yang rasanya kecut-kecut, haha. Lumayan untuk selingan karena stok air minum kita sudah benar-benar habis.
Oro-Oro Ombo #Perjalanan Pulang
Alhamdulillah padang Oro-Oro Ombo yang luas sudah terlihat dengan padang lavendernya yang keunguan. Di sepanjang Oro-Oro Ombo ini aku dan mb Marita memanfaatkan kesempatan untuk foto-foto lagi, karena kita sudah akan meninggalkannya. Melewati hamparan bunga lavender ini serasa berada di Eropa, sehingga berlama-lama di tempat ini pun terasa tidak akan pernah puas. Pada jalur pulang ini kita memilih untuk melewati jalur naik keatas bukit. Sehingga hamparan ungu lebih terlihat jelas dibawah sana.
naik ke atas bukit di atas Oro-oro Ombo #Perjalanan Pulang
Jam 3.00 kita hampir sampai di Ranu Kumbolo, sebelum menuruni jalur tanjakan cinta kita menikmati pemandangan Ranu Kumbolo dari tempat tersebut. Terlihat berderet-deret warna-warni dome yang sudah berjajar-jajar. Kita break istirahat sebentar, karena kaki semakin terasa kaku dan memar-memar. Ayuk tinggal menuruni tanjakan cinta yang super curam dan sampailah kita di Ranu Kumbolo, minum di danau mendirikan dome, masak lalu menjamak sholat dzuhur dan ashar. Serta satu hal lagi kita akan mengupas melon dan memakannya *hmmm yummy.
saatnya menuruni tanjakan cinta dan sampai di Ranu Kumbolo kembali #Perjalanan Pulang

Kamis, 20-6-13 jam 19.00 saatnya kita bermalam kembali untuk kedua kalinya ngecamp di Ranu Kumbolo yang selalu dingin memesona. Pada malam ini setelah makan, sholat maghrib dan isyak kita sharing bersama di dome, curhat dan review pendakian kita yang sudah kita lakukan selama 4 hari. Aku merasa sepertinya malam itu adalah malam yang paling indah di Ranu Kumbolo, kebersamaan yang tidak akan pernah tergantikan tentunya. Kita bercanda, saling mengejek dan mereview apa aja baik itu kekurangan maupun kelebihan  masing-masing. Sepertinya aku tidak ingin malam itu segera berakhir, but time runaway so fast, huhu.

Malam itu di Ranu Kumbolo hujan gerimis, dan hari sudah berganti Jumat 21-6-13. Jam 05.00 saatnya bangun pagi sholat subuh dan foto kembali untuk hunting sunrise di Ranu Kumbolo. Sedangkan yang lain masak, aku, mb marita dan Nanda kita bertiga berfoto-foto ria. Pagi itu suasana cerah kembali dan aktivitas pagi itu tidak terlepas dari kegiatan para pendaki untuk melakukan *panggilan alam, hahayy tak terkecualikan juga diriku, hehe. Maklum sudah hampir 5 hari belum melaksanakan ritual, *Alhamdulillah lega #ups.
masih di Ranu Kumbolo yang indah memukau
Waktu itu menu makan pagi kita sangat spesial, nasi, pecel, teri goreng, buah melon, dan sup. Kita makan bersama-sama dengan plastik sebagai alasnya lalu kita tuang nasi beserta lauk-lauknya lalu kita pulukkan bertujuh untuk makan bersama-sama. Sehingga dari aktivitas yang kita lakukan mengundang perhatian para pendaki di Ranu Kumbolo. Benar-benar sarapan pagi yang nikmat sambil disuguhi keindahan danau Ranu Kumbolo yang semakin memesona.
menu makan pagi di Ranu Kumbolo
Jam 9.00 kita packing dome dan peralatan masing-masing, tiba-tiba ada beberapa orang yang mengumpulkan sampah-sampah di RaKum mereka menggunakan *kantong putih besar, dalam hati berbisi *salut juga dengan kegiatan mereka. Ternyata mereka adalah komunitas pecinta alam yang sedang melakukan kegiatan bersih gunung *it’s wonderfull.
foto bersama di Ranu Kumbolo #Perjalanan Pulang
Jam 10.00 kita foto bersama di Ranu Kumbolo sebagai tanda akhir perpisahan dari kebersamaan kami bertujuh, *sedihnya. Lalu ketika kita akan meninggalkan RaKum, ternyata komunitas PA tadi menawarkan sampah-sampahnya untuk dititipkan ke beberapa pendaki yang mau turun, dan kita mengambil 4 karung sampah untuk dibawa turun hingga Ranu Pani. Sebagai tanda terimakasih kita diajakin untuk foto bersama mereka. Senang juga bisa saling membantu ^ ^.
foto bareng dengan komunitas bersih gunung #Perjalanan Pulang
Aku dan mb Marita gentian membawa satu karung sampah, di sepanjang perjalanan kita ngobrol gokil membahas sampah RaKum. Keren mana coba yang ngumpulin sampah dibandingkan dengan yang membawa turun dari Ranu Kumbolo hingga Ranu Pani. Menurutku semua memiliki tingkat keren masing-masing, yang mengumpulkan juga keren dan yang membawa turun menurutku lebih keren lagi tentunya. Karena dengan beban carrier yang sudah berat ditambah kita harus menenteng karung sampah juga.
hampir sampai di basecamp Ranu Pani #Perjalanan Pulang
Sepanjang perjalanan kembali, kita selalu mengabadikan foto kita dengan sampah yang kita bawa *maklum harus dengan perjuangan untuk ikut membawanya turun, hehe. Di perjalanan kita saling salip dengan beberapa kelompok pendaki lain yang juga turun. Tak jarang juga kita sering berpapasan dengan beberapa pendaki lokal maupun dari luar negeri. Kata-kata motivasi semangat itu tidak pernah putus.
sampai lagi di basecamp Ranu Pani #Perjalanan Pulang
Pos 4, pos 3, pos 2, pos 1 sudah kita lewati dan waktu telah menunjukkan jam 14.00 itu artinya kita sudah melakukan 4 jam perjalanan. Wajah capek sudah terpancar dari mimik masing-masing, semangat-semangat sebentar lagi kita akan segera sampai ke basecamp Ranu Pani dan Alhamdulillah kita sampai di basecamp Ranu Pani jam 14.30. langsung Uboed laporan, menyerahkan sampah dan  membeli pisang goreng panas.
mampir di Ranu Regulo
Setelah laporan, kita diajakin Uboed mampir ke Ranu Regulo, penasaran juga ternyata ada ranu yang lain, sambil makan pisang goreng kita berjalan menuju danau Regulo tersebut. Tidak jauh dari basecamp hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan berjalan kaki santai. Kita foto-foto dan menghabiskan jatah pisang goreng masing-masing. Jam 15.00 kita segera meniggalkan basecamp Ranu Pani menuju parkiran lapangan untuk booking jeep menuju Malang.

 
masih di Ranu Regulo dan bersiap melanjutkan #perjalanan pulang
Sampai di pasar Tumpang Malang jam 18.00 lalu kita naik bison biru menuju Kidal Malang untuk bermalam di tempat saudara Uboed. Pagi jam 7.00 kita menuju stasiun kota Malang, jam 8.00 kita naik kereta bisnis dan kembali ke Jogja dengan selamat.

All of this are my travel story about climbing Semeru Mountain. Thanks Semeru for everything, you teaches me how to be strong instantly, and to realize that we have the unlimited and suistainable power to keep going. Travel writer by Amin fitriyah as momonway ^ ^.

2 komentar:

  1. Pengen Ranu Kumbolo.................ouuwooooo bawa aku kesana min....ely

    BalasHapus
    Balasan
    1. Elly: hehe ayo ell, kita buat acara ngecamp MecaRica kesana,,pasti seruu,,heheh... :)

      Hapus