Rabu, 21 November 2012

Pendakian Gunung Sumbing (3371 mdpal)


Ternyata di luar sana masih banyak orang baik yang bekerja sebagai volunteer tanpa mengharapkan upah sepeser pun, sungguh merupakan pekerjaan yang mulia. Semoga energi dan tenaga yang dikeluarkan diberi ganti yang berlipat-ganda oleh Tuhan…

Pendakianku kali ini aku diberi kesempatan untuk mendaki gunung Sumbing, Jawa Tengah. Memang sudah menjadi keinginan lamaku untuk dapat mendaki triple S (Sindoro, Sumbing, Slamet), dan Alhamdulillah aku dapat menyambangi salah satu gunung ini. Tanggal 17-18 November 2012 tepatnya hari Sabtu-Minggu kami tim Palaga berangkat bersembilan orang yaitu Deni, Papa Jo, Anes, Mega, Baizil, Sarwan, Yudha, Ryan, dan Momonway berangkat dari Jogja menuju Wonosobo.
kita bersembilan
Pukul 11.30 kita berangkat dari Jogja menuju Wonosobo yaitu dengan menggunakan sepeda motor, kita beriringan di jalan yang awalnya dari Jogja sampai Magelang kepanasan matahari, dan sampai daerah perbatasan Magelang-Temanggung kita diguyur hujan deras, sampai mantel yang kita kenakan tidak dilepas hingga sampai di Wonosobo.

Kita bersembilan belum pernah dan belum tau jalur mana yang akan kita lewatin, akhirnya berbekal dari teman Deni di FB dan no HP kita selalu dikontak dihubungi. Akhirnya kita sampai di Pasar Kertek pukul 15.30, dan diarahkan untuk ambil kiri dan naik ke jalur Bondowongso. Ternyata kita sudah dijemput oleh beberapa orang yang telah menunggu kita, padahal sebelumnya kita belum pernah bertemu sama sekali. Namun aku tau bahwa mereka adalah orang-orang yang ramah dan baik, kemudian kita segera ke basecamp pertama, kita berkenalan dan tanya-tanya mengenai pendakian gunung Sumbing yang melalui jalur ini.

Ternyata basecamp yang kita tempati bukan merupakan start pendakian, melainkan kita harus naik lagi menuju kampung yang paling atas, sehingga kita harus mengendarai sepeda motor menuju kampung teratas dan menitipkan sepeda motor ke Pak Lurah. Setelah menjamak sholat dzuhur-ashar kita makan kemudian segera packing ulang, karena ada yang bilang kalau lama perjalanan pendakian gunung Sumbing perlu waktu sekitar kurang lebih 9 jam pendakian.

Pukul 17.00 kita naik menuju rumah Pak Lurah, dan apa yang membuat kita terpana, yakni jalan yang harus kita lewatin merupakan jalan 80% rusak total, jalan aspal yang tinggal bongkahan-bongkahan batu besar. Harus berdzikir memang, ketika melewati jalur tersebut, Alhamdulillah sekitar 20 menit perjalanan dengan motor seperti sedang mengendarai lomba pacuan kuda. Kasian motor metikq, sebenarnya kurang cocok jika harus dipaksa melewati jalan seperti itu, tapi tak apalah yang penting kita sudah sampai di desa paling atas.

Pukul 17.30 setelah menitipkan motor, kita segera memulai pendakian kita diantar oleh mas-mas volunteer, kemudian kita berdoa bersama untuk keselamatan kita dalam perjalanan pendakian hingga puncak gunung nanti. Kebetulan sanset dikala petang waktu itu sangat bagus sekali, berwarna jingga kemerah-merahan.
pemberangkatan dikala jingga
Seperti biasa nafas pendakian pertama terasa sangat berat sekali, jalur Bondowongso ini kita mulai dari ladang penduduk yang kurang lebih kita lalui selama 2 jam, dengan metode MLML (mlaku leren mlaku leren). Setelah ladang habis kita melewati jembatan jurang, dan menaiki lereng hingga bertemu dengan hutan lebat. Sepertinya jalur yang kita lalui merupakan jalur yang jarang dilewati pendaki, karena dalam pendakian waktu itu kita tidak pernah bertemu dengan pendaki-pendaki lain. Dalam benakku mungkin nantinya di pos 3 kita bisa bertemu dengan pendaki lain.

Pukul 22.30 kita sampai di hutan yang telah gundul, yakni bekas kebakaran gunung Sumbing itu artinya menandakan bahwa kita telah sampai di pos 2. Dari posisi ini kita bisa melihat gunung Sindoro dan pemandangan lanskap lampu penduduk, yang gemerlip-gemerlip indah, subhanalloh, sehingga kita memutuskan untuk mendirikan dome di tempat ini. Setelah 5 jam pendakian ternyata capek juga, kita berbagi tugas yang cowok mendirikan dome sedangkan yang cewek memasak kopi dan mie rebus untuk menghangatkan badan.
memasak mie dan kopi
Udara memang cukup membeku sehingga perlu jaket tebal, setelah makan dan aku menjamak sholat maghrib-isyak kemudian kita bersiap-siap untuk istirahat, dalam doaku aku berbisik terimakasih ya Alloh karena dalam perjalanan ini tidak turun hujan, kita berencana bangun jam 4.00 untuk melanjutkan ke puncak. Sepertinya capeknya badan membuat tidur kami sangat terlelap dan nyaman, walaupun salah satu dari kita ada yang tidur sambil menggigil kedinginan. Alhasil yang bangun pertama jam 4.00 hanyalah Papa Jo, dan yang lain masih nyaman beselimut slipping bag sehingga kita bangun jam 5.00.
gunung Sindoro
Udara pagi di lereng gunung Sumbing waktu itu benar-benar membeku, namun pemandangan yang terlihat, sangat sayang jika dilewatkan seperti biasa kita mengabadikan jerih-payah kita sampai di tempat ini dengan foto-foto.

pemandangan di pagi hari dengan background gunung Sindoro yang sangat cerah
Untuk melanjutkan pendakian ke puncak kita makan mie dan minum susu, dome dan barang bawaan kita tinggal di tempat, kita yakin pasti aman, karena di pos ini pun kita tidak bertemu dengan pendaki-pendaki lain. Pukul 6.00 kita berjalan menuju puncak, awalnya bersembilan kita jalan beriringan, kemudian setelah ada lereng yang terpisah oleh cekungan aku dan Deni memilih untuk melewati lereng sebelah, karena aku pikir jalannya lebih mudah. Sehingga kita terpisah menjadi 7 orang dan 2 orang, karena hutan gunung sumbing habis terbakar sehingga kita masih bisa melihat teman kita yang melewati jalur lereng yang berbeda.
di lembah gunung sumbing yang meliuk-liuk indah
Kenampakan lereng dan lembah yang meliuk-liuk sepertinya gunung ini seperti gunung Merbabu namun jarak pandang luasnya pemandangan lebih indah di gunung Sumbing ini. Pagi yang cerah waktu itu membuat deretan gunung-gunung terlihat dengan jelas, yakni tetangganya yaitu gunung Sindoro, pegunungan Dieng yang seperti tembok-tembok sisa gunung api purba Dieng yang besar, serta lanskap permukiman penduduk yang terlihat dari atas.
melihat lanskap pemandangan dari atas
Jalur yang aku lewatin dengan Deni ternyata melewati padang ilalang yang sangat bagus, sehingga aku merasa lebih beruntung ketika melewati jalur ini. Kenampakan yang seperti ini aku pikir sama dengan padang ilalang yang ada di gunung Lawu, namun semua memiliki ciri khas yang berbeda-beda tentunya.
momonway dengan padang rumput ilalang
View padang rerumputan ini membuatku terhanyut dalam keindahan yang luar biasa, terimakasih ya Alloh engkau telah memberikan kesempatan terbaik untuk dapat menjangkau tempat indah ini.
hampir sampai di puncak
Sekitar pukul 8.00 kita baru bertemu di jalur pertemuan dua lereng yang kita lewati, puncak masih lumayan jauh dan lereng berbatu masih panjang untuk kita daki, setapak demi setapak aku jalani, sepertinya ketika kaki sudah terasa payah batinku selalu bertanya “apakah aku bisa menakhlukan puncak gunung ini”? perasaanku pun menjawab “jika kau mampu bertahan menghadapi ego capekmu maka engkau pasti bisa”! gejolak dalam diriku terus berlangsung, dan sepertinya untuk menggerakkan kaki menapaki batu-batu kakiku sudah tidak mau lagi, namun aku percaya aku pasti bisa.
pasti bisa
Alhamdulillah, dengan kondisi badan yang sudah lelah stadium 5 akhirnya segerombolan bunga edelweiss dapat melupakan sejenak rasa capek, aku menciumnya dan berfoto dengannya tanpa aku memetiknya.
background bungan edelweiss yang sedang kembang
Terdengar dari atas kalau puncak sudah sedikit lagi, langsung aku gerakkan langkah kakiku menuju puncak gunung Sumbing, sedikit demi sedikit dan Alhamdulillah aku sampai puncak di ketinggian 3306 m.dpal. di puncak gunung ini kita bisa melihat kaldera yang masih ada kawahnya yang mengepulkan asap, kita kibarkan bendera merah putih di puncak ini.

Foto bersama di puncak.
di puncak 3371 mdpal
Di atas gunung ini kita mengadakan upacara kecil-kecilan sebagai tanda nasionalisme kita terhadap bangsa dan sang saka Merah Putih, kita kibarkan bendera dan menyanyi lagu Indonesia Raya. Aku pikir mungkin ini merupakan upacara bendera yang paling khidmat dari sekian yang aku rasakan, karena ini adalah puncak tertinggi gunung Sumbing, seperti lagunya coklat “merah putih teruslah kau berkibar di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini”. Setelah selesai kita mencium bendera satu persatu dan kita lanjutkan untuk turun dari puncak pukul 11.30.
momonway alhamdulillah sampai puncak
Menuruni gunung memang lebih cepat jika dibandingkan dengan naiknya, namun sendi kaki terasa di tekan-tahan, sakit plus capek plus laper plus haus jadi satu, namun tetep berusaha hingga pukul 14.00 kita baru bisa sampai di dome karena ketika menuruni lereng gunung, kabut cukup tebal sehingga mengganggu jarak pandang kita.
menuruni lereng padang ilalang
Lapar kemudian membuat mie dan makan nasi yang dibawa kemarin, kemudian merubuhkan dome dan packing barang. Namun cuaca semakin gelap dan kabut semakin tebal, tiba-tiba tetes air menerpa di wajahku, wah-wah sepertinya mau turun hujan, dan perkiraan memang benar. Turun hujan deras, sehingga kita turun dari Pos 2 sekitar pukul 14.30. hujan yang cukup deras mengakibatkan jalan setapak menjadi jalur larinya air, alhasil wajar selama menuruni gunung terpeleset dan tergelncir berkali-kali. Ternyata memang perjalanan sangat jauh jika melewati jalur Bondowongso ini. Jauuuuhhh banget, karena posisi hujan jadi kita tidak merasa haus dan tidak banyak istirahat. Akhirnya sampai rumah pak Lurah pukul 17.30 dan mengambil motor untuk kembali ke basecamp pertama.

Pendakianku kali ini sangat berkesan, sangat capek dan aku pasti akan merindukan capeknya mendaki. Momonway akan selalu berusaha untuk dapat menyambangi puncak gunung-gunung yang lainnya, amienn…
Terimakasih telah menyimak cerita perjalanan ini, sekiann……………

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar