Selasa, 25 September 2012

Mengunjungi Kembali Dataran Tinggi Dieng @ Telaga Warna

Hari Sabtu, 25 Agustus 2012 masih dalam kondisi liburan lebaran Idul Fitri, kami pemuda Panjang ngadain wisata ke Dieng. Sebenarnya sebelumnya aku udah pernah ke tempat ini, namun aku yakin sesuatu akan menjadi berbeda dan suasana yang berbeda ketika kita bersama teman-teman yang berbeda, walaupun tempat dan objek wisata yang sama.

Pukul 11.45 kita telah sampai di retribusi paket wisata Dieng, karena retribusi ini kita langsung bisa mengunjungi 3 objek yaitu Telaga Warna, Kawah Sikidang, dan Candi Dieng dalam satu tiket masuk. Merupakan cara yang tidak ribet agar tidak usah bolak-balik beli tiket masuk tentunya. Setibanya di Dieng, aku agak terheran dengan lingkungannya, kenapa Dieng jadi tidak dingin lagi, tanahnya kering berdebu, dan sampah-sampah plastik bertebaran dimana-mana, apalagi sampah masker. Sebenarnya aku sedang merindukan suasana Dieng seperti dulu, ketika aku pertama berkunjung di tahun 2008. Kemudian aku tersadar, mungkin suasana Dieng sekarang karena dipengaruhi kemarau yang panjang, sehingga tanah yang seharusnya hitam lembab jadi berubah cokelat dan kering.
di Telaga Warna
Objek pertama yang akan kita masuki adalah Telaga Warna, telaga yang memiliki pesona beragam warna, konon kata Dosen Pak Hadori, perbedaan warna air telaga yang beragam karena dipengaruhi adanya suhu panas bumi sehingga air ada yang berwarna abu-abu, kemudian pengaruh tumbuhnya lumut yang mengakibatkan warna telaga menjadi hijau, kemudian warna telaga yang biru akibat pengaruh pantulan dari langit. Perbedaan kenampakan Telaga Warna yang sekarang, debit airnya sangat sedikit sehingga pesona Telaga Warna sudah tak seindah dulu.
air Telaga Warna yang debitnya surut
Baru waktu itu aku merasakan suasana panas berkeringat padahal secara geografis aku berada di dataran tinggi Dieng, aneh memang tapi itu adalah kenyataan. Waktu itu banyak sekali wisatawan yang datang terutama wisatawan domestik yang mendominasi.

Tentunya dengan banyaknya pengunjung yang datang untuk foto-foto saja harus sabar antri. Kemudian setelah foto-foto aku sholat di mushola kecil di Telaga Warna ini, ada yang tidak berubah sepertinya, yaitu ari wudlu yang masih begitu dingin tidak seperti panas matahari yang menyengat waktu itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar