Rabu, 05 Januari 2011

“NEGERI SEPEDA” BELANDA DAN “SEGOSEGAWE” YOGYAKARTA

Bersepeda merupakan suatu hal yang sangat dianjurkan sekarang sebagai ajang untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Namun hal itu masih sulit diterapkan di kalangan masyarakat kita yang termakan oleh kemodernisasian zaman. Semakin banyaknya jumlah kendaraan bermotor yang berlalu lalang di jalanan menambah semrawutnya aktifitas jalan perkotaan. Walaupun sudah ada program dari pemerintah tentang “segosegawe”  nya, kesadaran masyarakat tentang kepedulian lingkungan baru sampai pada batas pengertian saja. Ketika sedang gencar-gencarnya  soisialisasi bike to work & school yang dikenal dengan segosegawe itu masyarakat ramai-ramai ikut serta dalam memerankan peranannya. Namun ketika baru berjalan dengan periode yang sangat singkat, segosegawe menjadi terlupakan begitu saja.

Namun sekarang banyak sekali munculnya komunitas-komunitas penggemar sepeda, yang setiap hari liburnya bersepeda dengan berkelompok. Hal itu sangat bagus apabila penggemar sepeda itu tidak lain hanyalah sebagai sebuah komunitas saja. Akan tetapi menerapkan kembali segosegawe nya itu dalam aktivitas kesehariannya, sehingga dapat membius masyarakat lain untuk tertarik pada komunitas sepeda dan manfaatnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Seperti yang dulu kita ketahui bahwa, Yogyakarta selain sebagai Kota Pelajar, pada tahun 70-80an disebut sebagai Kota Sepeda yang bebas akan polusi. Namun dengan berkembangnya zaman, menjadikan tergesernya predikat itu dan dapat kita lihat sekarang realita kalang-kabutnya kendaraan-kendaraan bermotor dan kendaraan bermesin lainnya. Hal itu sangat bertolak belakang dengan Belanda yang sekarang mendapat sebutan sebagai “Negeri Sepeda” selain sebutan sebagai “Negeri Kincir Angin, Tulip dan Sepatu Kayu”nya. Karena dari jumlah penduduk yang berjumlah 16,3 juta jiwa tercatat 18 juta jiwa yang memiliki sepeda. Sehingga ada 1100 sepeda tiap 1000 penduduk (Intisari, 2006). Menurut Cycling in the Netherlands, sekitar 85% penduduk Belanda memiliki sekurang-kurangnya satu sepeda yang digunakan secara teratur, bahkan tiap hari. Dan setiap orang di Belanda rata-rata mengayuh sepedanya sejauh 1.019 km setahun.
Mengingat betapa pentingnya alat transportasi non polusi itu sampai-sampai sepeda menjadi mata pelajaran dan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah. Serta dilengkapinya fasilitas-fasilitas penunjang bagi pengendara sepeda, sepeti adanya jalur khusus sepeda, rambu-rambu khusus untuk sepeda dan tempat parkir yang tersedia di mana-mana.

Bisakah kita berkaca diri sejenak dari hal tersebut, semakin majunya Belanda semakin peduli terhadap lingkungan dan kembali ke alat transportasi yang sederhana yaitu sepeda. Akan tetapi berbeda dengan keadaan kita, dulu ketika masyarakat kita belum terkontaminasi dengan modernisasi kita masih pure, nature dan sederhana juga menggunakan sepeda. Namun sekarang dengan berkembangnya modernisasi itu sepeda menjadi dianggap alat transportasi kuno yang sudah tidak “njamani” lagi. Yang dapat kita lihat sekarang adalah lalu lalang kendaraan bermesin yang semakin padat dan semrawut tanpa “tedeng aling-aling” yang menambah kemelutnya polusi udara.
Maka dari itu untuk mensukseskan segosegawe dan promo Yogyakarta sebagai Kota Wisata Sepeda nantinya, sebagai masyarakat yang berbudi kita harus ikut serta berperan aktif. Karena hal itu dilakukan untuk mengembalikan predikat Yogyakarta sebagai Kota Sepeda yang telah sirna dimakan kemodernisasian. Kita harus memulai dan memupuknya dari sekarang serta mensosialisasikan kepada masyarakat lain betapa pentingnya gaya hidup sederhana yang sehat. Hidup sehat, peduli lingkungan dengan sepeda! 


Oleh: Amin Fitriyah
Mahasiswa Pendidikan Geografi
FISE UNY

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar