Sabtu, 28 Februari 2015

Derawan Pulau Eksotis yang Menawan

Setibanya di dermaga pulau Derawan, kemudian langsung kita dibagi penginapan, karena kita ikut paket yang standar jadi penginapan kita dipisah kita tinggal di homestay, *I think it’s good yang penting kita bisa rehat dan tidur, kita menginap di tempat Pak Aji pemilik Homestay Lestari. Setelah rehat sebentar dan berbenah diri kemudian tak sabar kita jalan-jalan menuju pantai Derawan sisi sebelah timur. Dimana hamparan pasir putih dan berderet-deret nyiur melambai-lambai terlihat begitu indahnya. Aku benar-benar merindukan suasana pantai setelah terjebak beberapa bulan di tengah-tengah hutan belantara, hehe.
sisi dermaga kayu Pantai Pulau Derawan
Waktu sore menuju senja yang sangat sebentar ini kita manfaatkan untuk jalan-jalan di tepian pantai Derawan, bisa dibilang ini adalah waktu perkenalan pertama. Setelah itu kita segera pulang menuju homestay mandi dan makan malam di penginapan Lestari 2 yang langsung di atas perairan pantai Derawan. Setelah makan kita singgah ke penginapan Rahma dan Darmawan yang di Lestari 2. Kita main poker di kamar, jauh-jauh datang ke Derawan hanya untuk main poker, hehe. Kemudian ada orang sepertinya guide yang memberitahu kita untuk menyaksikan penyu bertelur. Untuk itu kita segera menuju daerah tepian pantai lagi, ternyata yang ingin menyaksikan penyu bertelur ini sangatlah banyak. Kita harus menunggu waktu hingga berjam-jam sampai jam 23.50 baru penyu yang akan bertelur itu naik ke daratan, dan Alhamdulillah kita bisa menyaksikannya. Ternyata penyu ini benar-benar besar dan bertelur banyak, memang andalan dari Pulau Derawan ini adalah *icon Penyu Hijaunya.
penyu hijau yang nampak ke permukaan laut
Setelah berhasil mengambil gambar dan foto bersama penyu hijau yang sedang bertelur ini langsung kita pulang menuju homestay masing-masing. Mata sudah terasa ngantuk dan lelah, planning kita untuk besok yaitu masih jalan-jalan mengeksplore pulau Derawan dan memutar untuk mengelilinginya.
di Homestay Pulau Derawan
Pagi hari Selasa, 30-12-2013 kita bangun pagi dan semua pengunjung homestay pak Aji semuanya bersiap untuk keliling 3 Pulau yakni Maratua, Kakaban dan Sangalaki, namun waktu itu kita masih harus tetep stay di Pulau Derawan karena kita akan berkunjung ke pulau tersebut esok hari. Itu tidak mengapa, artinya kita bisa puas-puas jalan-jalan menyusuri dan mengeksplore pantai di Pulau Derawan ini dari berbagai sisi.
explore Derawan Island
Ternyata pulau Derawan itu benar-benar pulau yang kecil karena kita menyusuri dari pantai sebelah barat dan menemukan sisi tempat yang telah kita eksplore sore kemarin. Namun di setiap sisi pantai di pulau ini benar-benar indah, dimanapun hamparan pasir putih dan birunya air laut serta kapal-kapal yang berlabuh menjadi suatu pemandangan indah yang tiada habisnya.
di tepian pantai Pulau Derawan dengan kapal-kapal berlabuh
Untuk itu menikmati pantai pulau Derawan dari setiap sudutnya hampir semuanya sudah kita lewati, sampai kita juga menemukan lokasi sekolah dari TK, SD, SMP dan SMA. Setelah menemukan lokasi beberapa komplek sekolah ini kita kemudian bertanya adakah anak SM3T yang ditempatkan di Pulau Derawan ini. Seandainya ada, pastinya akan sangat begitu menyenangkan tiap hari dapat memandangi pantai dan wisatawan yang datang silih berganti. Setelah puas jalan-jalan dan mengeksplore di pulau Derawan ini kita segera kembali ke homestay untuk rehat dan makan.
pantai Derawan yang menawan
Rencana sore nanti kita akan mandi dan naik banana boat, namun sebelum itu kita mau mencari kaos dan cinderamata khas pulau Derawan ini seperti kaos pantai, gelang penyu, gelang dari kerang, sarung pantai, dan lainnya. Setelah tawar-menawar dengan baik yang dilakukan oleh temanku Imah, akhirnya aku dapat membeli kaos pantai 4 dengan harga yang cukup murah @Rp 27.500. kemudian kita menuju tepian dermaga pulau Derawan mengambil gambar foto-foto, di pinggiran dermaga ini kita melihat para pengunjung yang naik Banana boat sepertinya terlihat sangat menyenangkan, untuk itu kita segera menuju pantai pulau Derawan sisi sebelah timur.
wahyu tomo, aminfitriyah, mami *we are partner travelling
Seperti biasa untuk naik banana boat ini sekali memutari pulau Derawan @Rp 200.000 untuk 5-6 orang, karena kita Cuma bertiga saja akhirnya kita bisa menawarnya @Rp 100.000 untuk 3 orang. Perasaan deg-degan juga mau naik bananaboat ini tapi bagi kami bertiga sepertinya speed/kecepatan kurang begitu cepat, hehe. 
naik BananaBoath
Namun kami sudah request untuk menjatuhkan kami di saat di akhir rute, hehe. Begitu menyenangkan refreshing kali ini dan kami bertiga benar-benar jatuh, maksudnya *sengaja menjatuhkan diri, hehe. Karena sudah terlanjur basah kemudian kita mandi ditepian pantai Derawan sambil foto-foto ^ ^.

Senin, 23 Februari 2015

On The Vacation Derawan Island #Transit Tarakan Island

Minggu, 28-12-2013 perjalananku dimulai dari Malinau menuju Tarakan berangkat jam 08.00 pagi dengan menggunakan speedboat. Perjalanan kali ini aku berangkat bersama ke-4 teman SM3T yaitu Imah, Wahyu, Darmawan dan Rahma. Kita akan melakukan vacation liburan ke Pulau Derawan. Perjalanan di speedboat kurang lebih selama 4,5 jam hal ini dikarenakan speedboat yang kita tumpangi sering mengalami kehabisan bensin. Tiket speedboat dari Malinau ke Tarakan seharga Rp 215.000 ya jika dilihat dari lamanya perjalanan menyusuri sungai Malinau harga tiket itu tidak terlalu mahal.
sampai di pelabuhan SDF Pulau Tarakan
Sampai di pelabuhan SDF Tarakan kurang lebih pukul 12.30 suasana cukup panas waktu itu, kesempatan ini adalah untuk kedua kalinya aku singgah dipulau Tarakan. Pulau kecil yang kotanya sudah cukup ramai mirip dengan jalanan di Jogja. Sesampainya di Tarakan kita menginap di Hotel Bahagia, hotel ini atas rekomendasi supir taksi angkot yang membawa kami. Dimana lokasi hotel ini cukup strategis dekat dengan pusat belanja di Tarakan dan dekat pula dengan tempat Konservasi Mangrove dan Bekantan Kota Tarakan. Kita menginap semalam saja di Tarakan untuk itu kita memilih penginapan yang murah Rp 150.000 sekamar untuk bertiga.
Hotel Bahagia Pulau Tarakan
Di kota Tarakan ini kebetulan ada anak-anak SM3T lain yang sedang liburan kesini juga untuk itu kita sekaligus ketemuan dengan mereka ada Kareka, Slamet, Galih, Erin, Ijul, Fera, Ika, kita kumpul dan makan bersama di dekat perbelanjaan Ramai. Sepertinya nasib kita sama sebagai anak-anak SM3T yang sedang butuh refresh otak, hehe.
Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan Kota Tarakan
Sebelum kita akan berangkat ke Derawan, hari Senin, 29-12-13 kita mau menyempatkan untuk mengunjungi Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan yang tidak jauh dari lokasi penginapan kami. Setelah mandi dan prepare kita berlima segera jalan menuju kawasan konservasi yang hanya perlu jalan 10 menit dari penginapan Bahagia, cukup dekat memang. Jam 9.30 kita sudah sampai di pintu masuk dan segera membeli tiket, agak shock memang dengan harga tiketnya yang cukup murah hanya Rp 3.000. suasana hutan mangrove ini sangat sejuk dan dingin pula rasanya benar-benar adem bisa untuk merefresh otak. Padahal kita baru aja jalan di sekitar kota yang sangat panas namun setelah masuk di daerah hutan mangrove langsung terasa dingin begitu saja. Benar-benar suasana yang sangat nyaman.
di Kawasan konservasi Mangrove
Kawasan konservasi mangrove dan bekantan ini tidak terlalu besar sehingga kita bisa jalan-jalan memutarinya sambil melihat beberapa bekantan yang hinggap diantara pohon-pohon. Setelah puas foto-foto dan jalan-jalan jam 10.30 kita segera keluar dan mencari tempat makan karena kita belum sarapan. Kemudian kita segera menuju pelabuhan SDF Tarakan menunggu jemputan speedboat menuju Pulau Derawan.

Jam 12.00 aku, Imah dan Wahyu kita bertiga segera menuju pelabuhan SDF Tarakan dan menemui Pak Anca Derawan, dia yang mengurusi paket wisata kami di pulau itu. Kita memang sengaja mencari paket wisata yang standar 4H3M seharga Rp 1.550.000 dari Tarakan. Perjalanan menuju pulau ini dengan menggunanakan *Derawan Express kita digabung dengan beberapa pengunjung wisata lain dari berbagai daerah ada yang dari Nunukan, Balikpapan dan lainnya. Perjalanan dari Tarakan menuju Derawan kurang lebih selama 4 jam perjalanan, merupakan perjalanan yang sensasional juga mengarungi selat makasar yaitu perjalanan speedboat laut.
Perjalanan speedboat dari Pulau Tarakan- Pulau Derawan
Selama perjalanan di speedboat terasa tergoncang-goncang oleh gelombang, namun karena ngantuk kita bisa tidur pula dan akhirnya lambat laun terlihat pula pulau kecil yang indah, speedboat yang kita tumpangi menepi di perairan laut Derawan yang bening biru indah. 
Sampai di Pulau nan indah *Derawan Island
Satu kata yang terucap *subhanalloh  amazing, akhirnya sampailah juga aku di pulau indah ini. Terimakasih ya Rabb atas kuasa-Mu aku bisa mengunjunginya.

Sabtu, 21 Februari 2015

Berburu Sayuran Pakis di Hilir Temalang Long Berang

Jumat, 7-3-2014 setelah pulang sekolah kami diajak untuk pergi mengambil pakis di hilir Temalang. Sebenarnya ini untuk mengganti janji siswa kami Alex yang waktu itu akan mengantarkan kita mencari pakis di Long Simau di hari kamis. Memang di hari sebelumnya, kita guru-guru SMP & SMA sempat dikecewakan oleh Alex, namun untuk hari Jumat siang ini dia akan mengobati kekecewaan kami. Alex sudah bersiap untuk mengantarkan kami menuju hilir Temalang mencari tanaman pakis dan Lombok.

Kami guru-guru SMA baru pulang pukul 12.00 untuk itu biar kami bisa makan cepat, kami hanya menggoreng telur dan makan siang. Semua serba disiapkan dengan cepat, agar teman-teman guru yang lain tidak terlalu menunggu lama. Jam 12.30 dibawah terik matahari kita semua bersiap untuk turun menuju perahu, saat itu kami berdelapan orang yaitu bu Mer, bu Lia, bu Yumnas, kak Dwi, kak Ika, aku Amin Fitriyah, Andian kecil sang juru batu, dan siswa kami Alex sang motorist ketinting kami. Saat itu kami menggunakan perahu ketinting SMA N 11 Malinau.
Bersama rekan-rekan guru mendorong perahu Ketinting yang akan kita pakai
Kondisi air sungai saat itu sangat jernih, karena sudah sekitar 1 minggu tidak turun hujan dan arus sungai sangat begitu kecil, untuk itu sebelum kita berangkat kita harus menarik perahu yang telah diparkir di tepian. Karena kami semua banyak yang perempuan, sangat berat untuk menarik perahu, untungnya Anrison (siswa SMA kami) sedang lewat. Dia sudah paham apa yang harus dilakukan, kemudian dia menepikan perahunya dan ikut membantu menarik perahu ketinting kami. Setelah berhasil saatnya memulai perjalanan menuju ke hilir. *Bismillah….
Duduk di belakang dengan motorist murid kami *Alex
Aku memilih untuk duduk di perahu paling belakang dekat dengan sang motorist (Alex). Seperti biasa moment-moment seperti ini selalu aku abadikan dengan membuat video dan mendokumentasikan berbagai foto, serta menceritakannya dengan menuliskannya di blog perjalananku ini.

Di setiap rute perjalanan menyusuri sungai dengan menggunakan ketinting, merupakan moment yang menyenangkan, kembali merasakan perpaduan antara jernihnya sungai, batu-batuan dan hijaunya hutan hujan tropis Kayan Mentarang, benar-benar refresh menyejukkan. Alex sengaja menggoyangkan perahu ke kanan dan ke kiri, membuat perahu tidak imbang sehingga saat melewati giram-giram kecil banyak air yang masuk mengenai kami. “Hati-hati ya Alex, awas kau ya sengaja mengerjai kami”. Dia balas dengan tertawa lebar, senang karena bisa mengerjai kami.

Sebelum sampai di hilir Temalang, kita berhenti di jalur anak sungai kecil untuk mengambil Lombok. Namun untuk mencapai ke tanaman Lombok ini kita harus jalan menyusuri sungai kecil berbatu dan kadang harus terjun ke dalam air yang cukup berlumpur dan dalam. Menurutku ini sungguh merupakan perjalanan yang sensasional, masuk ke hutan melalui jalur anak sungai kecil berbatu, dengan diapit hutan yang benar-benar lebat. Kadang kita terpeleset dan masuk ke arus sungai, namun kita malah tertawa sendiri. Setelah menyusuri sekitar 15 menit jalan kaki, aku pikir kita sudah sampai di ladang Lombok yang banyak. Namun kita dikejutkan oleh tanaman Lombok yang hanya 2 pohon. Kali ini Alex benar-benar mengerjai kami, aku pun pingin marah, namun aku tetap senang karena ini adalah perjalanan yang luar biasa. Berarti kita rela untuk jalan di medan berbatu, terpeleset, basah-basahan demi untuk mencari 2 tanaman Lombok. *Ha ha ha…. Benar-benar mencengangkan.

Alhamdulillah untungnya 2 pohon cabai ini lebat berbuah, sehingga langsung kita serbu habis, kita tidak memandang yang sudah tua maupun masih muda, mengingat perjuangan kita menuju lokasi ini. setelah selesai kita segera kembali menuju posisi perahu ketinting di sungai besar, dengan jalan kaki kembali, tentunya dengan ekstra hati-hati.

Saatnya melanjutkan perjalanan kembali menuju ladang tanaman pakis, kita menuju ke hilir kembali. Tidak begitu lama, tiba-tiba setelah melewati tikungan sungai, kemudian Alex kembali memarkir perahu ketinting kami. Kemudian kita turun mengikuti jejak kakinya dan mengambil beberapa tanaman pakis. Masuk ke semak-semak hutan, untungnya saat itu sedang kemarau sehingga tidak ada hewan pacet yang mengganggu kami. Tanaman pakis di tempat ini tidak terlalu banyak dan kami hanya bisa mengambil beberapa tanaman saja. Kemudian Alex mengambil buah *Telesep untuk kami, agak aneh buah ini seperti jantung pisang, namun didalamnya ada beberapa buah biji yang bisa diambil. Buah ini harum, setelah dibuka terlihat biji-biji hitam kemudian aku mencoba untuk merasakannya. Rasanya *hmm…. asam manis luar biasa. Ternyata kami ketagihan, hehe.
di pinggir sungai Mentarang Hulu yang jernih
Segera kami kembali ke pinggir sungai sambil memakan buah Telesep ini. sedangkan yang lain berenang mandi, namun aku dan kak Ika makan buah Telesep sambil foto-foto di pinggir sungai yang ada batang pohon besarnya. Setidaknya tempat ini bisa menjadi site foto yang menarik.

Kemudian Alex membawa kami kembali menuju hilir Temalang, dan ternyata sangat banyak tanaman pakis. Tinggal memetik pucuk daun muda pakis dengan mudah, kami bertiga berhasil mengumpulkan pakis 1 karung, Alhamdulillah lumayan juga. Kemudian setelah berhasil mengumpulkan pakis, segera kita kembali ke perahu, lalu Alex membawa kami pulang ke hulu, di seberang sungai terlihat pohon durian yang sedang banyak berbuah namun pohonnya begitu tinggi dan besar. Kemudian Alex meminggirkan perahu untuk ke sekian kalinya, kebetulan tempat pemberhentian kami pemandangannya cukup bagus. Sembari Alex dan bu Mer mencari durian, kita menunggu hasil durian sambil foto-foto. Bu Mer berhasil mendapatkan 1 buah durian namun sudah dalam kondisi tidak baik. Kemudian Alex memberikan 1 buah durian yang masih sangat kecil, yaa lumayan, upaya pencarian buah durian ini bisa kita manfaatkan untuk foto-foto.
panorama akumulasi sungai, padang rumput, air yang jernih begitu indah
Saatnya melanjutkan perjalanan kembali ke hulu, kami meminta ke Alex untuk mampir di anras untuk berenang. Untungnya Alex ini adalah siswa kami yang baik, dia mau menuruti segala keinginan kami. Mandi berenangdi tepian sungai yang jernih merupakan moment yang menyenangkan. Kemudian Alex segera naik perahu dan kembali menjalankan mesin kembali ke hulu.
kami adalah rekan guru pengajar di Long Berang (dari berbagai etnis)
Di perjalanan kami bertemu teman-teman PKM yang sedang menyelam mencari ikan, Alex lalu menawrkan tumpangan untuk mereka. Padahal ada sekitar 4 orang (kak Ibing, kak Dendi, om Erwin, dan Ombet) menurutku ini rekor muatan ketinting yang paling banyak yaitu 12 orang. Berharap di dalam hati, Alex bisa mengemudikan perahu dengan baik, agar kita semua bisa selamat sampai mes kofol Long Berang. Perahu berjalan agak lambat, karena muatan perahu cukup berat, akhirnya setelah melewati satu tikungan sungai  komlek kofol Long Berang sudah mulai terlihat. Sampailah kita semua dengan selamat, dan hari itu merupakan hari yang luar biasa bagi kami. *Enjoy in every moment ^ ^.

Senin, 05 Januari 2015

Mencari Sayuran Tanaman Pakis di Ladang Hutan Long Berang

Rabu, 12-2-2014, sepulang dari sekolah seperti biasa kami masak lalu makan siang. Kemudian kita diajak oleh teman-teman guru SMP untuk mencari sayuran pakis di hulu sungai Puruh. Biasanya setelah jam makan siang kita tidur siang, lumayan karena ada yang mengajak mencari sayuran pakis membuat jiwa kami bersemangat kembali, setidaknya ada hiburan aktivitas kegiatan di luar kebiasaan.
Satu perahu ketinting dimuat 8 orang ^ ^
Untuk menuju hulu sungai Puruh ini harus menggunakan perahu ketinting, sehingga jam 14.00 siang kita sudah siap untuk berangkat. Sebenarnya jumlah penumpang normal untuk 1 ketinting adalah 4 orang maksimal. Namun kali ini 1 ketinting kita gunakan untuk 9 orang (aku, kak Dwi, Bu Mar, Bu Mer, Bu Lia, Bu Yumnas, Pak Eko, Pak Ber, dan Pak Andian sebagai motorisnya). Benar-benar menyalahi aturan pelayaran lalu lintas sungai, mungkin jika ada polisi lalu lintas sungai, kita benar-benar bisa ditilang, haha…. Tapi ini kan di pedalaman sungai Kalimantan, jadi tidak ada yang peduli sama sekali dengan keberadaan kita, namun masing-masing dari kami tetap waspada dengan keselamatan diri masing-masing.


Kebetulan air sungai debitnya agak kecil sehingga ketika masuk di jalur sungai Puruh perahu ketinting seperti terasa sedang menabrak batu. Perasaan was-was bikin jantung deg-degan juga walaupun katanya sungai ini dangkal, jika perahu karam kita yang tidak pandai berenang ini pasti ketakutan setengah mati, hehe. Alhamdulillah setelah selang beberapa menit perjalanan dan melewati giram-giram batu akhirnya kita sampai di ladang pakis hutan. Sebelumnya agak penasaran juga seperti apa bentuk tanaman pakis yang dapat kita makan. Setelah melihat contoh beberapa pucuk pakis yang dipetik oleh Bu Mar dan Bu Mer akhirnya kita bisa memetik pakis.
Sawung yang aku pakai ini bisa melindungi panasnya sinar matahari Kalimantan
Hari itu sangat panas, untungnya aku dipinjami Bu Mer sawung kalau di Jawa mirip dengan *caping sebagai topi penutup kepala. Sehingga sedikit mengurangi sengatan cahaya terik matahari. Ketika mengambil pakis pun harus ekstra hati-hati karena penuh dengan semak belukar dan adanya hewan penghisap darah *pacet yang menggelikan. Setelah berhasil mengambil beberapa pakis kemudian kita memutuskan untuk istirahat di pondok gubuk seseorang. Kebetulan kita juga menemukan buah jeruk kebun yang jatuh dari pohon, lumayan dapat kita makan bersama dan rasanya cukup manis, hmmm.

Tiba-tiba kita dikejutkan dengan suara histeris Bu Mer dan ternyata kakinya digigit pacet penghisap darah, lantas semuanya ikut lari menjerit ketakutan, hehe. Habis itu kita tertawa bersama menertawai ketakutan masing-masing karena hewan kecil satu itu. Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 kemudian kita mau mencari rebung, tapi kita tidak bisa mengambilnya, lantas kita langsung kembali menuju tepian sungai sambil menunggu kepulangan Pak Ber, Pak Eko dan Pak Andian.
Nungguin perahu di pinggir anras
Sambil menunggu kedatangan mereka memancing, kita bermain air di pinggir anras sambil foto bersama. Sudah hampir setengah jam kita menunggu tapi mereka tak kunjung datang juga. Kemudian kita berjalan menyusuri anras jalan ke hulu, dan muncullah perahu ketinting yang kita tunggu. Lalu kita segera kembali dan naik perahu lagi. Namun untuk melalui giram-giram berbatu kita harus turun dari perahu karena muatan penumpang terlalu banyak. But it’s okay….
rehat di gubuk ladang
Kemudian setelah yang perempuan berhasil memetik pakis, dan yang laki-laki berhasil memancing beberapa ekor ikan kemudian kita bersembilan melanjutkan perjalanan pulang menuju mes dengan penuh keceriaan. Hal ini merupakan pengalaman kami yang luar biasa, kebersamaan yang indah tentunya. Kebersamaan di perjalanan perahu ketinting bersembilan orang, mungkin alat transportasi ini tidak pernah kami gunakan, jika kami tidak mengikuti program 1 tahun mengajar di daerah pedalaman Kalimantan seperti ini.
Setelah dapat pakis segera perjalanan pulang ke mes
Semoga aku selalu bisa mensyukuri nikmat-Mu ya Rabb, atas kesempatan luar biasa yang selalu engkau berikan kepadaku. *Tetap menguatkan mimpi untuk bisa mengelilingi pulau-pulau di Indonesia. I will go to around the archipelago of Indonesia, *Bismillah…. ^ ^.

Pesta Kebun Di Air Terjun Besar Long Berang

Minggu, 20-10-2013 kita diajakin refreshing oleh teman-teman guru SMP N 1 Mentarang Hulu, yaitu pak Berly dan Pak Bustang. Kita diajakin untuk bakar-bakar ayam di air terjun, ternyata air terjun yang ada di Long Berang ini ada 2 tempat, dan tempat yang pernah kita kunjungi adalah air terjun kembar Long Berang. Sebelumnya kita berpikir untuk bakar-bakar ayam nanti di air terjun kembar, ternyata dugaan kita salah yaitu kita diajakin menuju air terjun besar. Sehingga perjalanan menuju lokasi air terjun ini harus menggunakan ketinting *perahu kayu kecil. Perjalanan air sungai ini merupakan perjalanan yang menegangkan terutama bagi yang tidak pandai berenang seperti kami. Jadi pelampung merupakan bagian perlengkapan perang yang wajib harus kami kenakan, hehe.
Semakin bersahabat dengan alat transportasi ini *Ketinting
Kita berangkat jam 14.00 sudah ada 2 ketinting yang siap membawa kami pergi jalan-jalan. Terlihat sang motoris adalah siswa-siswa SMP kami yaitu Lasung dan Doni, badan mereka terlihat masih sangat kecil namun diusia dibawah 15 tahun mereka sudah pandai dalam menahkodai perahu kayu kami. Perjalanan pun dimulai, saatnya kembali merasakan perjalanan sungai yang menakjubkan melewati jeram-jeram batu besar dan giram. Sehingga kapal pun sudah terbiasa bergoyang ke kiri dan ke kanan. Untuk mencapai ke air terjun ini kita berjalan ke hulu jadi perahu harus melawan arus. Masing-masing dari kami sudah berdoa di dalam hati, semoga perjalanan kali ini lancar.
Ketinting dipinggirkan dulu untuk beli bensin ^ ^
Kita harus mengisi bensin ketinting terlebih dahulu, jadi perahu sering merapat ke tepian sungai untuk berhenti kemudian perjalanan kita lanjutkan. Setelah perahu berjalan sekitar 20 menit sampailah kita di lokasi air terjun, namun untuk menuju lokasi air terjun ini kita harus berjalan masuk kedalam huan sekitar 5 menit saja, jadi tidak terlalu jauh masuk ke dalam hutan. Sesampainya kita di lokasi air terjun ini tempatnya benar-benar teduh dan bagus. Air terjunnya pun cukup lumayan besar sehingga cipratan-cipratan air yang dihasilkan sangat segar dan fresh.
Bakar ayam ala suku Dayak Lundayeh
Persiapan dari rumah kita sudah membawa 2 ekor ayam yang sudah direbus sehingga sesampainya di air terjun kita tinggal membakarnya saja. Tidak perlu membawa panggangan karena kita menggunakan apa yang sudah disediakan oleh alam. Kita mengambil kayu di pinggir sungai, dua batu besar, dan batang pohon seperti pohon salak namun sangat besar, dahan kayunya bisa kita gunakan untuk menusuk daging ayam dan kita tata secara horizontal diatas bara api kemudian daging ayam yang sudah diberi bumbu masak dan kecap kita taruh diatasnya. Benar-benar sangat keren memanggan daging ayam di pinggir air terjun, mungkin jika aku tidak di tempat ini, aku tidak pernah merasakan moment indah seperti ini. Bau harumnya daging yang terpanggang semakin membuat kami lapar. Kami juga membawa bawang putih, bawang merah dan cabai untuk dijadikan sebagai sambal kecap, kita iris-iris di pinggir air terjun.
wajib basah di air terjun
Setelah proses pembakaran selesai, saatnya kita menikmati makan bersama karena sebelumnya kita sudah membawa bekal nasi yang cukup. Benar-benar sensasi yang nikmat makan di dekat derasnya air terjun besar Long Berang yang indah. Setelah selesai makan kita segera mandi dan berenang bersama di dasari air terjun. Teman SM3T kami si Dwining dia berenang dengan menggunakan pelampung dan kami pun berfoto-foto ria. Bagi yang tidak mau mandi kita tarik semuanya untuk merasakan basah-basah di air. Kita pun menikmati moment itu dan gembira bersama.
Moment yang indah bersama mereka
Jam 16.00 kita segera kembali pulang, namun kita mampir sebentar di percabangan Sungai Mentarang kita foto-foto dan mandi basah-basahan di sungai kemudian melanjutkan perjalanan pulang kembali menuju mes sekolah kami. Hari minggu kali ini menjadi moment yang sangat menyenangkan. Happy Sunday in the middle of Long Berang ^ ^.

Mancing dan Kemah di Anras Sungai Mentarang

Selasa, 8-10-2013 kami berangkat ke sekolah seperti biasa, jam 07.20 kita sudah sampai di kantor. Banyak kegiatan yang kami sering lakukan di sekolah selain mengajar, yaah untuk menambah kesibukan biar tidak pernah bosan. Kebetulan hari ini temen kami Joko Seko akan turun ke kota yaitu untuk keperluan ikut pertandingan bola voli di Malinau mewakili club di Pulau Sapi dan sekaligus untuk membeli kebutuhan logistik kami yang sudah hampir habis.

Pak Marthen (Kepala Sekolah kami) tiba-tiba mengajak untuk pergi mencari ikan, mungkin karena melihat kebosanan di wajah kami berempat dengan rutinitas itu-itu saja, jadi beliau membuat acara dadakan. Pak Marthen memiliki hobi memancing dan berburu di hutan, hobi ini merupakan hobi yang sering dilakukan oleh penduduk setempat di daerah-daerah Long seperti Long Berang. Kemudian beliau mengajak guru-guru SMP N 1 Mentarang Hulu dan memanggil beberapa siswa yang memiliki ketinting untuk diajak nyilam mencari ikan, camping di anras lebih tepatnya.

Siswa SMA kami yang bernama Anrison, dia memiliki ketinting dan bisa mengoperasikannya, kemudian siswa SMP yang diajak adalah Alex dan Johan. Rencana kami pergi jam 14.00 siang setelah sepulang sekolah. Karena belum makan siang, maka kami hanya sempat menggoreng telur dan makan dengan sambal terasi instant, maklum karena mencari sesuatu yang cepat untuk dimakan. Setelah selesai solat kita segera prepare untuk menyiapkan barang bekal yang akan kita bawa. Peralatan tersebut ada gelas, piring, panci, pisau, ceret, bumbu-bumbu seperti garam, masako, kecap, gula, kopi, minyak gas/minyak tanah, beras, korek api dan lainnya.
Ketinting adalah alat transportasi utama kami di sini
Jam 13.45 empat perahu ketinting sudah diparkir di pinggir sungai di belakang mes sekolah kami, waktu itu kami segera bersiap tentunya dengan pakaian pelampung, hehe. Teriakan suara siswa-siswa kami “Bu, cepetan segera naik ke ketinting !!” ini merupakan perjalanan pertama kami menaiki ketinting, karena sebelumnya kita untuk menuju Long Berang ini naik *Long Boat yaitu perahu kayu yang lebih besar dari ketinting.
Tetap safety dengan pelampung ^ ^
Saatnya petualangan baru dimulai, setiap ketinting diisi 4-5 orang berarti ada sekitar 16-20 orang yang ikut mecari ikan dan perempuan yang ikut hanya 5 orang saja yakni aku, Dwining, Ika, Bu Mari, dan Bu Lia. Perjalanan kami menuju hilir anras yang kita tuju sangat menyenangkan sekali, sensasi naik ketinting perjalanan menyusuri sungai yang jernih dan pemandangan hutan belantara yang hijau, ditambah kami menaiki ketinting milik siswa kami. Mereka begitu pandai menjadi motorist ketinting dan juru batu perjalanan. Sembari berfoto ria mendokumentasikan moment juga menikmati indahnya alam di pedalaman Kalimantan ini.
Jernihnya air di hulu sungai Mentarang
Perjalanan sekitar 15 menit, tiba-tiba perahu kami di pinggirkan begitu aja, dan tiba-tiba dua siswa kami langsung terjun ke air dengan menggunakan senjata penembak ikan. Karena kita diparkir di pinggir jadi aku dan Dwining hanya duduk diatas ketinting sambil menunggu mereka, kemudian aku foto-foto, baru sekejap kita berhenti tau-taunya Alex sudah dapat hasil tangkapan. Begitu keren sekali, mereka adalah penyelam-penyelam hebat di tengan-tengah deras dan jernihnya sungai di Kalimantan. Kemudian perahu kami dipinggirkan ke samping menuju anras.
Hasil tangkapan ikan sungai *Baung dan Pelian
Sambil menunggu anak-anak menyelam, Pak Marthen dan Pak Forret memancing dan berburu, yang perempuan merebus air dan membuat kopi. Kemudian menanak nasi dan membakar hasil tangkapan ikan yang pertama. Ikan yang kami bakar hanya kita bumbui dengan garam dan masako saja, ikan pertama yang kita bakar namanya adalah ikan Pelian. Agak lumayan besar ikan ini, sambil menunggu Pak Eko menjala juga, kita yang perempuan ngobrol dan berfoto-foto di anras. Sekitar jam 16.30 para penyelam sudah kembali datang dengan hasil tangkapan mereka. Semakin penasaran dengan hasil tangkapannya, ternyata benar sekali ikan yang diperoleh sangat besar-besar dan jumlahnya lumayan banyak. Kemudian ikan-ikan itu kita bersihkan dan kita bakar di anras untuk dimakan secara bersama-sama.
Bakar ikan langsung di anras Mentarang Hulu
Moment seperti inilah yang aku suka, bisa berkumpul bersama menyatu dengan masyarakat asli suku Dayak Londayeh, walaupun kita masing-masing berbeda agama, suku dan bahasa namun kita bisa menyatu seperti layaknya saudara. Moment kebersamaan yang sangat menyenangkan, kita ngobrol, bercanda,  dan makan bersama dengan alas daun pisang. Be a great day.
Kebersamaan kami dengan anak suku Dayak Lundayeh
Waktu itu jam udah menunjukkan jam 17.00 namun, ternyata mereka belum puas mencari ikan, untuk itu para penyelam-penyelam hebat siswa kami akan melanjutkan kembali mencari ikan. Sedangkan kami ibu-ibu ditemani Pak Eko Agus kita ngobrol bareng di anras sambil menunggu kepulangan para penyelam pencari ikan. Jam 21.30 ketinting sudah datang kembali dengan membawa hasil tangkapan ikan yang cukup banyak untuk itu kami bersiap untuk kembali ke kampung Long Berang tepatnya di mes sekolah. Waktu itu adalah pengalaman pertama kami naik ketinting pada malam hari, yang hanya diterangi oleh lampu senter, menembus jalan sungai di tengahnya gelapnya hutan belantara Kalimantan, tentunya perjalanan ini menjadi perjalanan yang sangat sensasional dan mengandung banyak cerita petualangan.
Pak Marthen adl Kepala Sekolah kami yg hobi mancing
Sesampainya di mes hasil tangkapan ikan yang diperoleh dibagi ke kami dan kami diberikan 1 ikan baung dan 2 ikan pelian yang besar-besar, Alhamdulillah bisa untuk lauk esok hari. Pokoknya petualangan mencari ikan di sungai waktu itu menjadi peristiwa yang luar biasa bagi kami. Good moment ^ ^.

Jumat, 01 November 2013

Realita Kondisi Pendidikan Di Pedalaman Desa Long Berang Mentarang Hulu

Sejak kedatanganku di penempatan SM3T di desa Long Berang Kecamatan Mentarang Hulu kabupaten Malinau ini, banyak sekali realita pendidikan yang aku temui. Sebenarnya kasihan juga aku melihat nasib anak-anak bangsa di pelosok Negeri ini, sudah SMP namun ada yang masih belum bisa baca dan masih mengeja, belum bisa berhitung, perhitungan dasar juga masih banyak yang belum bisa. Kekurangan guru dan tenaga profesional mengajar sangatlah kurang di sekolah ini, banyak guru PNS yang jarang masuk dan yang mampu bertahan untuk mengajar hanyalah guru kontrak dan guru honorer.
SMP N 1 Mentarang Hulu

Letak sekolah kami berada  di hulu sungai Mentarang, jadi kita berada di atas bukit di Mentarang Hulu, transportasi untuk menuju daerah ini hanyalah menggunakan perahu kayu seperti Longboat dan Ketinting. Tidak ada jalan darat, jadi tidak ada mobil, bis, bahkan motor pun hanya ada 2 atau 3 yang dimiliki oleh petugas kecamatan. Terbatasnya akses menuju lokasi ini sehingga jumlah penduduk yang tinggal disini hanya sedikit. Untuk itu daerah ini sangat terisolasi karena keterjangkauan transportasi menuju lokasi tempat ini.

Setiap hari anak-anak selalu memperoleh bentakan bahkan pukulan dengan kayu penggaris maupun kayu rotan, hukuman fisik masih sering diterapkan di sekolah ini. Anak-anak selalu diceramahi soal kedisiplinan namun guru-guru yang ada disini jarang sekali untuk bisa disiplin mengajar, sangat ironis memang. Selain itu cara pengajaran yang diterapkan oleh guru-guru disini sangat monoton dan kurang berkembang. Tidak ada media yang menarik yang dapat guru sampaikan. Guru-guru masuk kelas untuk mau mengajar itu sudah merupakan nilai plus, jadi bentuk ngajarnya seperti apa itu sudah nomor dua. Siswa paham dengan materi yang disampaikan maupun tidak itu bukan menjadi suatu alasan demi tercapainya tujuan pembelajaran di kelas. Sehingga  belajar menjadi suatu hal yang menakutkan di kelas dan pasti terasa membosankan bagi siswa.
 
siswa SMP N 1 Mentarang Hulu
Untuk itu kesempatanku untuk mengajar di sekolah ini adalah merubah metode cara penyampaian belajar *fun learning yang lebih menyenangkan. Memberikan beberapa *ice breaking di setiap kelas yang aku ajar agar siswa merasa senang dan tidak bosan. Aku suka mengajar karena bisa sharing berbagai ilmu dan transfer knowledge maupun transfer value. Mengajar bagiku adalah sebuah panggilan hati, di sekolah ini aku selalu memotivasi mereka untuk terus berani bermimpi dan menggapai cita-cita setinggi mungkin. Aku tau mereka adalah anak-anak yang lahir di daerah pedalaman tapi aku percaya mereka memiliki kesempatan sama untuk memiliki mimpi-mimpi dan meraihnya.
 
siswa SMA N 11 Malinau yang masih menggunakan ruangan perpustakaan SMP N 1 Mentarang Hulu
Di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal disini tepatnya di daerah tapal batas dengan Malaysia, dengan waktu satu tahun yang singkat ini akan aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Berbagi pengalaman dengan mereka, belajar bersama mereka, dan bersosialisasi bahkan menjadi bagian dari keluarga mereka. Di pedalaman desa Long Berang ini aku bersyukur walaupun dengan segala keterbatasan akses transportasi, listrik dan bahan kebutuhan logistik, namun aku merasakan kebahagiaan bersama masyarakat suku Dayak Lundayeh disini. Mengenal budaya dan tradisi masyarakat yang ada, belajar bahasa mereka dan bernyanyi lagu daerah dengan mereka menjadi suatu hal yang menyenangkan.