Sabtu, 22 Juni 2013

Pendakian Gunung Semeru 3.676 m.dpal (Puncak Para Dewa Mahameru)


“Puncak Mahameru bukanlah sumber kekuatan, kekuatan itu berada di hati, jiwa dan pikiran masing-masing, yang tiap-tiap orang miliki dan tidak ada batasnya ~mengutip dari Mr.Portable”
we are seven warriors
Senin 17-6-13 jam 15.00 kumpul di basecamp Uboed *klebengan, temen-temen pendakianku kali ini ada 7 orang yakni Uboed, Ms Momo, Mb Marita, Ms Nanda, Rifqy, Hengky dan aku Amin Fitriyah, Baru kali ini aku akan mendaki tanpa temen-temen Palaga. Jam 20.00 berangkat dari Janti ke Terminal Surabaya jam 05.45 setelah sholat shubuh jam 06.15 kita melanjutkan ke Terminal Arjosari sampai jam 09.00 setelah itu melanjutkan ke Pasar Tumpang menggunakan bison putih, dan sampai di Pasar Tumpang jam 10.00 di pasar ini kita beli logistik yang sangat lengkap dari sayuran, tempe, buah melon, ikan asin, bumbu instant dan lainnya. Di lokasi pasar ini kita sekalian sarapan “Pecel Mak Mad” yang terkenal dengan warung tenda biru Mahameru, tentunya pecel ini sangat spesial dan murah. Jam 10.30 kita segera menuju basecamp Ranu Pani pake jip putih adventure, ternyata lama perjalanan sekitar 2,5 jam karena medan jalan naik turun dan jalan yang penuh tantangan alias *gronjal-gronjal, hehe.
tiba di basecamp Ranu Pani
Selasa, 18-6-13 Alhamdulilah sampai di Basecamp Ranu Pani sekitar jam 12.30 di basecamp ini kita disuguhi danau Pani yang segar, suhu di basecamp Ranu Pani ini lebih sejuk dari yang dibayangkan. Sampai di basecamp kita segera mengurus perijinan pendakian yang sudah dikoordinir oleh Uboed, untuk pendaftaran perijinan ini masing-masing pendaki harus menyiapkan foto copy ktp dan surat kesehatan masing-masing 2 buah. Ternyata untuk perijinan masing-masing dikenai per@ Rp10.000, tenda per@ Rp20.000, Kamera digital/Handycamp/HP yang berkamera per@ dikenai tambahan biaya Rp5.000 sepertinya biaya tersebut memang balance dengan keindahan alam yang akan disuguhkan oleh Balai Taman Nasional Semeru.

Jam 12.45 kita sholat dzuhur sekalian menjamak sholat asar, setelah itu kita segera packing ulang dan segera berangkat untuk memulai pendakian jam 13.00. Perjalanan dari basecamp Ranu Pane menuju Ranu kumbolo sekitar 5 jam pendakian. Harus melewati 4 pos pendakian, untuk perjalanan pendakian kali ini kita di-leader-i oleh Uboed sehingga selama prosesi pendakian kita harus ikut semua aturan yang telah disepakakti. Formasi pendakian waktu itu kita jalan beriringan ber-tujuh orang, pertama Uboed, aku, ms Momo, mb Marita, Rifqy, ms Nanda dan yang terakhir adalah Hengky. Aku berpikir kenapa aku ditaruh di formasi kedua setelah Boedi, itu karena aku pikir dari ke tujuh pendaki itu fisikku yang paling lemah sehingga harapannya aku bisa mengikuti jejak langkah sang leader Uboed.

Seperti biasa nafas pertama untuk mendaki terasa lebih berat, ya ini memang karena kita baru start on, jalan naik turun masih disuguhi dengan ladang penduduk, itu artinya kita baru benar-benar jalan sedikit. Pendakianku kali ini benar-benar keren karena apa, karena aku mendaki tanpa teman-teman Palaga. Itu artinya fisikku harus tetap terjaga dan fit. Aku akui Uboed memang leader yang udah professional, setiap kita sudah terlihat capek, terutama aku yang paling terlihat kita diberi waktu istirahat selama 15-20 detik (menurutku ini adalah waktu istirahat yang benar-benar sebentar) hanya bisa untuk mengatur nafas saja. Namun aku sudah mempercayainya, dan kita harus mengikuti aturan yang ada. Setiap melalui jalur medan tanjakan naik, rasanya capek banget namun dengan istirahat per 15-20 detik itu kita saling menyemangati dan sampailah kita di Pos 1.

Saat itu kabut pun turun dan semakin tebal nyaris pandangan siang hari itu terganggu oleh turunnya kabut, dan sampailah di Pos 1 pas turun hujan. Alhasil kita memutuskan untuk menggunakan rain coat, baru kali ini pas pendakian berangkat sudah kehujanan, karena pendakian-pendakianku sebelumnya selalu sehabis dari puncak kehujanan, tapi tidak apa-apa, hujan adalah salah satu bentuk dari rahmat dan berkah-Nya. Kita berjalan beriringan sambil diguyur hujan yang lumayan deras, jalan setapak pendakian pun menjadi aliran air, sepatu basah hingga kaos kaki. Pos 2 dan Pos 3 sudah kita lewati tentunya dengan selingan-selingan istirahat beberapa kali. Beban berat carrier sudah menjadi tanggungjawab masing-masing, semuanya capek dan kita sudah hampir 4,5 jam perjalanan dan itu artinya kita akan segera sampai di Ranu Kumbolo.
hampir sampai di Ranu Kumbolo

Tidak terasa tubuh danau Kumbolo sudah terlihat begitu indahnya, hampir pukul 16.45 kita kita sudah di bibir bukit Ranu Kumbolo, Alhamdulillah danau ini benar-benar sangat indah. Rasanya adem di hati melihat ciptaan Alloh yang begitu indahnya, Uboed bilang kalau yang kumpulan tenda-tenda dome yang terlihat nantinya kita juga akan ngecamp

Sabtu, 01 Juni 2013

Uji Coba Roket Air ala SMP ISLAM PRESTASI Al Mubtadi-ien

Hari Sabtu, 1 Juni 2013 merupakan pengumuman kelulusan anak-anak SMP kelas 3. Sehingga di sekolah mengundang wali murid untuk diadakannya pengumuman, dan Alhamdulillah di angkatan Pioner I SMP Islam Prestasi ini lulus semua, hehe *ikut lega. Pada postingan blogku kali ini aku akan menuliskan kreatifitas anak-anak SMP Islam Prestasi yang sangat bagus dan beranekaragam. Mata pelajaran *Pengembangan Diri inilah yang membuat sekolah ini berbeda dengan sekolah lainnya, dan kesempatan pada hari itu yakni bereksperimen ria untuk meluncurkan Roket Air, *Horee ^ ^.
*siap meluncurr*

Pada mapel Pengembangan Diri ini anak-anak digabung menjadi 1 yakni kelas 1 dan kelas 2, sebelumnya mereka sudah diperintahkan untuk membawa botol aqua 1,5 liter dan tambahan bahan lainnya seperti kertas untuk sayap roket serta pewarna. Mereka sudah dibagi ke dalam beberapa kelompok, and it’s time saatnya beraksi ^ ^.
bersiap menguji coba roket air yang telah dibuat
Sepertinya untuk meluncurkan roket air ini perlu membutuhkan alat-alat seperti pompa, pipa kecil, tang, obeng, ban dalam bekas, serta alat-alat tambahan lainnya. Sehingga Mr. Shobi (kepala sekolah SMP Islam Prestasi) perlu mendatangkan ahli roket air yaitu temannya sendiri dan kurang tau namanya siapa.
*konsentrasi* sambil tertawa boleh lhoh ^ ^
Kebetulan tadi pagi pas berangkat menuju ke sekolah ban motor saya kena paku, alhasil bocor dan perlu ganti ban dalam yang baru, ternyata semua itu ada hikmahnya yakni ban dalam motor saya yang kena paku tersebut dapat dimanfaatkan untuk peluncuran roket air, wahaha (*tapi kok yang bocor harus ban motor saya ya**, huhu).
Mas Teknisi peluncuran, sepertinya sudah berhasil menyelesaikan alatnya, sehingga anak-anak langsung diminta untuk menguji coba roket yang sudah mereka buat, mereka sungguh kreatif karena roket yang mereka buat ada yang dilukis, ada yang diberi pewarnaan, sayap dan lainnya.
*kerjasama*
Percobaan peluncuran pertama sepertinya belum berhasil, karena pada saat baru dicoba, air yang sudah dimasukkan ke dalam botol roket malah menyemprotkan ke segala penjuru yakni ke muka anak-anak, wahaha *it’s funny, namun dari peluncuran-peluncuran selanjutnya akhirnya roket air berhasil diluncurkan, *give applause for us ^ ^.
roket air berhasil diluncurkan
Sepertinya anak-anak menikmati peluncuran roket air tersebut, dan rela untuk basah-basahan demi meluncurnya roket air hingga maksimal, tidak hanya anak-anak, guru-guru pun ikut menyaksikan dan kami ceria tertawa bersama.
I proud to be a Geography Teacher
I proud to be a teacher in Islam Prestasi Al Mubtadi-ien Junior Highschool, (*pernah menjadi bagian darinya sangat berarti bagiku*).
By Amin Fitriyah as a Geography Teacher.

Sabtu, 25 Mei 2013

Pendakian Gunung Sindoro (3150 m.dpal)

Hari Jumat-Sabtu, 24-25 Mei 2013 aku dan teman-teman Palaga, dari jauh-jauh hari sudah merencanakan untuk mendaki gunung Sindoro. Karena sebelumnya kita sudah mendaki gunung Sumbing, jadi planning selanjutnya kita akan mendaki gunung sindoro. Rencana pendakian awalnya kita berkeinginan hanya 11 an orang saja, biar ideal dalam pendakian. Sebelumnya kita juga ngadain TM namun yang datang pada saat TM hanya aku, Baskoro, Anes, Papa Jo, Ryan, dan Mega, ternyata pas hari H yang jadi ikut pendakian sekitar 17an orang. Peserta Palaga waktu itu adalah Amin Fitriyah, Anes, Ana, Mega, Rina, Papa Jo, Baskoro, Ryan, Hadik, Tarom, Qomar, Deni, Yudha, Baizil, Sarwan, John, satu lagi Andi anak Riau juga. Sepertinya anggota Palaga akan semakin bertambah banyak, karena untuk menjadi anggota Palaga yaitu harus pernah mendaki bersama senior-senior Palaga, hehe.
we are PALAGA
Habis Jumatan kita kumpul di kos Mega, biasa pada molor termasuk aku, maklum karena harus ngajar di SMP sampai pukul 11.30. dikarenakan kumpulnya tidak menjadi satu tempat jadi kita harus saling menunggu dan menjemput teman-teman yang sedang menunggu di suatu tempat. Sekitar pukul 14.00 kita baru berangkat dari Jogja. Bismillah, perjalanan sekitar 4 jam kita lalui Jogja-Magelang-Temanggung-Kledung dan sampai di basecamp Sindoro sekitar pukul 18.00. Sesampainya kita di basecamp, aku bertanya-tanya kok basecamp gunung Sindoro ini berada di samping jalan raya Temanggung-Wonosobo, masyaalloh sepertinya memang perjalanan pendakian ke Puncak Gunung akan jauh sekali.

Aku lihat di tempat parkir sepertinya sudah ada beberapa pendaki yang sudah naik waktu itu, aku segera menyarankan patungan @10.000 rupiah untuk membeli nasi bungkus sejumlah 17 buah, ada yang sholat magrib kemudian sholat Isya’ dan habis itu kita packing ulang. Sekitar pukul 19.00 kita start mendaki. Pendakian waktu itu Palaga semakin lengkap karena membawa 2 personil professional yakni Pak Dokter (Yudha Fauzan) dan Pak Ustadz (Qomarrudin). Jadi ketika dimulai dengan berdoa bersama kita langsung dipimpin oleh Pak Ustadz Qomarrudin.
istirahat di ladang lama
Perjalanan dari Basecamp sampai Pos 1 kita harus melewati Ladang Lama sekitar 1,5 jam wauww lama sekali ya, karena jalan masih agak datar dan waktu itu langit malam hari sangat cerah dan diterangi oleh sinar rembulan pula,sehingga waktu itu jadi moment yang benar-benar indah dan romantis bagi pasangan pendaki,hehe. Kita jalan santai dengan diselingi beberapa break dan akhirnya terbukti sampai di pos 1 waktu telah menunjukkan pukul 20.30.

Kemudian kita melanjutkan perjalanan dari Pos 1 menuju Pos 2 diperkirakan waktu yang ditempuh sekitar 1 jam, didalam rute menuju pos 2 ini akan melewati rute jalan menurun, yang akibatnya nanti kita harus melewati jalan naik kembali, *hadaw sepanjang sisi perjalanan sudah merupakan vegetasi pohon cemara dan rumput semak belukar. Kalau di buku petunjuk perkiraan pendakian sekitar 1 jam, namun kita anggota tim Palaga melakukan pendakian sekitar 1,5 jam. Alhamdulillah sampai di Pos 2 pada pukul 22.00.

Setelah break sebentar di Pos 2 kemudian kita lanjutkan untuk menuju Pos 3, rute jalur pendakian untuk menuju Pos 3 sudah merupakan jalur track menanjak, dan sudah ada sedikit batuan kecil-kecil di setiap jalan setapak. Lama perjalanan yang kita tempuh sekitar 3 jam perjalanan karena kita *Love slow very much, haha MLML (mlaku leren-mlaku leren sambil bercanda dan istirahat sebentar). Hampir sampai di Pos 3 kita disuguhkan pemandangan kerlip lampu penduduk yang berada di bawah sana, benar-benar pemandangan lampu yang indah, kalau begini nih selain ingat Alloh, juga ingat sang penemu bola lampu *simbah kita Thomas Alfa Edison yang telah berjasa membuat bola lampu yang bermanfaat bagi manusia hingga akhir zaman nanti, hehe. Alhamdulillah sampai di Pos 3 sekitar pukul 13.00. Di Pos 3 ini sudah berdiri 4-5 dome para pendaki yang sudah sampai duluan, karena terbatasnya tempat kita mencari-cari tempat yang muat untuk 2 dome lagi.

Seperti biasa yang laki-laki mendirikan dome, dan yang perempuan masak membuat kopi dan mie. Dinginnya *berrrrr, serasa menusuk-nusuk di tulang, akhirnya dome pun jadi, segera tidur melepas capek dan lelah, serta berharap esok pagi dapat disambut oleh sinar mentari pagi yang indah. Good Night, and have a nice sleep Palaga ^ ^.
sinar mentari pagi yg indah
Bangun pagi sekitar pukul 5.30 dan benar, kita disambut oleh indahnya sinar pagi yang memantulkan cahaya kuning orange, subhanalloh indahnya. Selain itu di Pos 3 ini kita disuguhi background pemandangan gunung Sumbing, dan dua gunung-gunung kecil lainnya, yakni Merbabu dan Merapi. Terimakasih ya Rabb, Engkau berikan kesempatan padaku untuk melihat hasil ciptaan-Mu yang sangat indah, dan aku hanyalah seorang manusia kecil yang teramat kecil dihadapan-Mu yang tiada artinya sama sekali. *Ketika mendaki gunung, aku selalu berpikir ternyata manusia itu amat kecil, dan Tuhan Sang Penciptalah yang Maha Besar.
pagi hari dengan background gunung Sumbing
Masak pagi membuat mie rebus, jahe panas, dan kopi sedangkan yang cowok prepare untuk mempacking dome kembali, karena di buku petunjuk kita tidak boleh meninggalkan barang-barang di Pos 3 termasuk Dome, jadi perjalanan dari Pos 3 menuju Pos 4 kita harus membawa beban carrier masing-masing. Baru kali ini pendakian bagiku untuk membawa tas carrier hingga puncak nanti.
perjalanan menuju puncak harus dengan beban carrier
Perjalanan dari Pos 3 sekitar pukul 07.00 kita mulai jalan beriringan, rute jalan yang kita lewati sudah merupakan rute menanjak, disebut sebagai rute Batu Tatah. Dimana rute Batu Tatah ini merupakan rute terbuka yang terdiri dari batu-batu besar dan cukup melelahkan, apalagi yang perempuan harus membawa carrier masing-masing. Pendakian yang benar-benar panjang dan melelahkan, kita sampai di Pos 4 dengan lama pendakian sekitar 2,5 jam, sehingga sampai di Pos 4 sekitar pukul 9.30.
istirahat sebentar
Siang itu masih cerah sehingga pemandangan semak rumput ilalang terhampar hijau, dan langit terlihat biru cerah. Aku memilih untuk jalan agak depan bareng dengan tim Riau Squad, mereka benar-benar merupakan cowok-cowok kuat, dan sudah beberapa kali aku mendaki bersama mereka. Waktu itu kurang tau pendakian terasa semakin capek dan ngantuk, aku pun jalan dikit demi sedikit, slow namun tetap jalan terus. Setiap ketemu dengan para pendaki lain selalu diberi semangat, *puncaknya tinggal sebentar lagi mbak*, hehe.
bareng tim Riau Squad
Hati dan jiwaku pun membisikiku untuk bisa sampai puncak, *Bismillah amin pasti bisa, akhirnya tumbuhan edelweis yang belum kembang itu sudah memperlihatkan padaku, itu artinya sudah sampai di Padang Edelweis. Ada yang mengatakan Padang Edelweis di Sindoro ini merupakan kawasan padang Edelweis terluas di semua gunung, tapi aku pikir kok kayaknya tidak ya, hehe. Masalahnya edelweisnya belum kembang jadi terlihat Cuma sedikit. Lama perjalanan dari Pos 4 hingga Padang Edelweis sekitar 1,5 jam sampai sekitar pukul 11.00.
hampir menuju padang Edelweis
Melewati kerumunan pendaki yang sudah pada mulai turun dan sedang break di bawah pohon, berteriak menyemangati *semangat mbak 30 menit lagi sampai puncak deh. Sepertinya untuk menjawab semangat mereka serasa aku tak kuasa, tapi aku paksa untuk bisa tersenyum pada mereka. Jiwa dan keinginan untuk sampai puncak masih ada tetapi kaki dan fisik sudah terasa capek luar biasa, akhirnya aku slow untuk jalan terus dan Alhamdulillah terdengan orang berteriak *sampai puncak-sampai puncak.
menikmati padang ilalang dulu
Secara geografis puncak gunung Sindoro terlihat begitu lebar, kawahnya masih mengepulkan asap belerang, dan benar bahwa gunung Sindoro ini bukannya masih aktif namun merupakan gunung yang sedang istirahat. Aku melihat jam tangan menunjukkan pukul 11.45 sampai di Puncak Gunung Sindoro. 
at Puncak Gunung Sindoro
Di Puncak ini para pendaki dapat menikmati dengan memutar kearah kiri mengitari kawah dan akan mendapati alun-alun puncak Sindoro di sebelah kawah mati dan katanya akan tembus ke tempat semula, waktu untuk memutari kawah Sindoro ini ditempuh selama kurang lebih 1 jam, namun aku dan teman-teman Palaga memutuskan untuk tidak mengitari kawah. Kemudian kita berfoto bersama, dengan membuat tulisan Palaga.
alhamdulillah bisa sampai puncak Sindoro

Setelah sudah puas melihat keindahan puncak Sindoro dan mendokumentasikannya, tepat pukul 12.20 kabut mulai menebal, sepertinya ini adalah tanda-tanda hujan akan datang, dan benar sekali akhirnya hujan deras mengguyur kami di puncak, kita langsung memakai mantel dan siap menenteng carrier masing-masing untuk turun.
we love U PALAGA
Benar-benar proses penurunan gunung yang melelahkan, yaahh inilah yang disebut dengan pendakian, setelah capek-capek jalan sampai puncak, kita harus capek-capek juga untuk turun kembali. Filosofi naik gunung dari bawah-puncak-turun ke basecamp aku selami seperti proses hidup kita di dunia ini, ada lahir-proses hidup-kesuksesan-kembali ke yang Kuasa/mati. Begitulah, harus mengingat tujuan kita dilahirkan di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Alloh.
bersiap untuk turun kembali
Perjalanan dari Puncak-Pos4-Pos3-Pos2-Pos1 harus kita lalui, kita sempat masak di Pos 4 karena lapar dan makan mie instant bersama-sama. Kemudian kita lanjutkan perjalanan. Aku turun bertiga bersama Baskoro dan Papa Jo, perjalanan penurunan gunung terasa lama dan melelahkan karena sambil diguyur hujan selama 5 jam perjalanan. Sampailah kita bertiga disusul Tarom di Pos 1 sekitar pukul 18.00. Baju basah, carrier basah, dan fisik lelah. Aku pikir dari Pos 1 menuju basecamp aku sudah tidak kuasa jika harus berjalan kemudian aku memutuskan untuk naik ojek @10.000 rupiah dan Alhamdulillah sampai di basecamp Sindoro dengan selamat terimakasih ya Rabb.
keindahan itu adalah ketika mendaki gunung
Inilah cerita pendakianku di gunung Sindoro, semoga aku diberi kesempatan oleh Alloh untuk mendaki gunung-gunung lainnya di Indonesia maupun di luar negeri sana.
Author by Amin Fitriyah ^ ^
Salam Rimba.

Minggu, 21 April 2013

Kartinian Days~Sepedaan ke pantai bersama muda-mudi Panjang Bergema

Sepertinya blog perjalananku akhir-akhir ini baru dipenuhin kegiatan-kegiatan bersepeda tiap minggu pagi, yeach it’s my activities every Sunday morning. Aku selalu percaya setiap kegiatan dan perjalanan selalu memiliki cerita yang berbeda. Pokoknya aku akan selalu menuliskan perjalanan travelling dalam hidupku kemanapun aku  pergi, aku akan berusaha untuk selalu menuliskannya. Aku percaya dengan menulis, maka aku ada. Here I’am.
 
momonway and a funny hat
Sepedaan minggu pagi ini yaitu tanggal 21 April 2013 bertepatan dengan Hari Kartini, untuk itu biasanya aku bersepeda hanya berdua saja, namun kali ini aku bersepeda bersama muda-mudi panjang. Serangkaian rencana untuk bersepeda sudah kita bahas sebelumnya, kita berencana untuk mengadakan sepedaan ke pantai Depok, dengan menggunakan kostum kebaya jaman dulu bagi yang perempuan dan jarik. Kemudian bagi yang laki-laki kita lebih menyarankan untuk memeberi kebebasan namun diharapkan mereka menyesuaikan.
kumpul sebelum berangkat gowes
Jam 6.30 kita kumpul di TK, semuanya telah siap berkumpul dengan kostum yang sudah ditentukan. Ternyata dengan pakaian jaman dulu pun muda-mudi Panjang tetap kelihatan cantik-cantik, malah sepertinya lebih kelihatan feminine. Selain itu yang mengikuti acara sepedaan ternyata banyak juga sehingga acara sepedaan bakalan lebih seru dari biasanya. Sambil menunggu semuanya siap kita segera berangkat untuk gowes menuju pantai Depok.
on the way
Selama perjalanan terutama di jalan Parangtritis, kita semua menjadi pusat perhatian bagi setiap orang yang lewat, mungkin karena kostum pakaian jaman dulu yang kita pakai. Sepertinya kita menjadi trending topic pembicaraan masyarakat yang kita lewatin, cihuyy senengnya sepedaan kali ini. Selama perjalanan orang-orang selalu mengira *oO iki mesti nggo peringatan Kartinian* haha, tanpa menggunakan embel-embel spanduk dari kostum yang kita pakai kita sudah ikut andil dalam memperingati sosok pahlawan perempuan Indonesia yaitu *Ibu Kartini.
menggunakan kostum jaman dulu
Perjalanan gowes ke pantai lebih lama dari biasanya, maklum dengan jumlah peserta yang banyak sehingga harus saling tunggu-menunggu dan salip-menyalip. Akhirnya sampailah kita di pantai Depok, kemudian berfoto-foto dan membeli bakso tusuk. Sebenarnya pemandangan pantai ini sudah menjadi hal yang biasa bagi kami, namun yang tidak pernah terbelikan adalah kebersamaan kita untuk bersama-sama kembali. Setelah matahari semakin panas kita segera pindah haluan menuju ke pantai Parangtritis, yang katanya sedang ada balapan motor race.
menuju pantai Parangtritis
Melewati rute jalan di tengah-tengah gumuk pasir, merupakan rute yang menyenangkan, seperti yang telah saya ceritakan di sepedaan-sepedaan sebelumnya. Ternyata ada yang baru, yakni sekarang telah dibangun seperti gapura atau tugu selamat datang. Paling fungsi dibangunnya tugu ini adalah untuk memberitahukan bahwa gumuk pasir Parangtritis ini merupakan salah satu cagar alam yang perlu dilestarikan karena tidak ada gumuk pasir lain di Indonesia selain yang ada di Parangtritis ini.
foto di pantai *Kartini n Kartono*
Setelah kita sampai di pantai Parangtritis ternyata banyak umbul-umbul dan terdengar bising suara motor yang sedang race road balapan di sepanjang pasir pantai, karena waktu itu sudah terlalu panas kita lebih memilih untuk pulang saja. Langsung saja kita ambil belok kiri dan kembali menuju jalan Parangtritis dan siap-siap kembali pulang menuju desa tercinta. Sepanas apapun cuaca hari itu, bersepeda tetap menjadi suatu hal yang menyenangkan. Sampai jumpa dengan cerita travelling selanjutnya ^ ^.